PERILAKU PROSOSIAL PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR

Download prososial peserta didik kelas tinggi sekolah dasar berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Penelitian menggunakan pendekatakan kuantitatif den...

0 downloads 364 Views 593KB Size
p-ISSN 2355-5343 e-ISSN 2502-4795 http://ejournal.upi.edu/index.php/mimbar

Article Received: 26/05/2016; Accepted: 05/09/2016 Mimbar Sekolah Dasar, Vol 3(2) 2016, 222-230 DOI: 10.17509/mimbar-sd.v3i2.4384

PERILAKU PROSOSIAL PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR BERDASARKAN PERBEDAAN JENIS KELAMIN Yustiana Amini1 & Ipah Saripah2 1,2Program

Studi Bimbingan dan Konseling FIP UPI Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 1Email: [email protected] 2Email: [email protected] 1,2Jl.

ABSTRACT The aim of this research is to provide an overview of empirical research to the student prosocial behavior in elementary school. The approach used to examine the student prosocial behavior is a quantitative approach with descriptive methods. The population is 84 high-grade student's SD Miftahul Iman Year 2015/2016. Results show that the overall level of prosocial behavior is the adequate category with average value of 1.89, which indicates that students are already quite capable of showing their prosocial behavior but still require the guidance of a counselor or teacher. Based on sex, there is difference but not significant in the average value of prosocial behavior among girl and boy students. Keywords: prosocial student, sex difference.

behavior,

elementary

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perilaku prososial peserta didik kelas tinggi sekolah dasar berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Penelitian menggunakan pendekatakan kuantitatif dengan metode deskriptif. Alat pengukuran data adalah kuesioner berbentuk skala yang dikembangkan berdasarkan indikator perilaku prososial. Populasi penelitian adalah seluruh peserta didik kelas tinggi SD Miftahul Iman Tahun Ajaran 2015/2016 yang berjumlah 84 peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan perilaku prososial dalam kategori sedang dengan nilai rerata sebesar 1.89, artinya peserta didik sudah cukup mampu menampilkan dan menunjukkan perilaku prososialnya. Selain itu, secara keseluruhan terdapat perbedaan tetapi tidak terlalu signifikan antara perilaku prososial peserta didik perempuan dengan perilaku prososial peserta didik laki-laki. Kata Kunci: perilaku prososial, peserta didik sekolah dasar, perbedaan jenis kelamin.

How to Cite: Amini, Y., & Saripah, I. (2016). PERILAKU PROSOSIAL PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR BERDASARKAN PERBEDAAN JENIS KELAMIN. Mimbar Sekolah Dasar, 3(2), 222-230. doi:http://dx.doi.org/10.17509/mimbar-sd.v3i2.4384.

PENDAHULUAN ~ Manusia adalah makhluk

sebaya.

sosial

dan

teman sebaya akan membawa dampak

lain. Dalam

positif terhadap anak tersebut. Anak yang

yang

saling

berinteraksi

membutuhkan satu sama berinteraksi

dengan

memiliki

keunikan

sendiri

terhadap

lingkungan,

dan

anak

kurang

keragamannya

lingkungan

Hubungan yang baik dengan

disenangi

oleh

temannya

cenderung diabaikan bahkan dikucilkan

yang

oleh

temannya

sehingga

diabaikan

dalam lingkungan teman sebayanya.

hambatan pada tahap perkembangan selanjutnya.

menimbulkan

Dengan

penting

di lingkungan tidak hanya dipengaruhi oleh

mengembangkan perilaku prososial.

[222]

anak

untuk

demikian,

Perkembangan anak dalam bersosialisasi keluarga, tetapi juga lingkungan teman

bagi

akan

terus

tergambar melalui perilakunya terutama

sosial

maka

jika

mampu

Yustiana Amini & Ipah Saripah, Perilaku Prososial Peserta Didik Sekolah Dasar…

Pengertian

prososial

sendiri

menurut

pengorbanan, kemurahan hati, dan saling

Kartono (2003) adalah suatu perilaku sosial yang

menguntungkan

terdapat

unsur-unsur

kerjasama,

kooperatif,

Perilaku dapat

prososial diartikan

di

berbagi.

dalamnya

kebersamaan,

Faktor

lingkungan

dengan

dalam

perilaku

dan

altruisme.

perbedaan

(Prosocial

Behavior)

prososial anak seperti pemberian model

juga

sebagai

segala

individu

terkait

yang dilakukan oleh orang tua dapat

tindakan apapun yang menguntungkan

membantu

anak

orang lain (Einsberg & Mussen, 1989).

Penggunaan

dalam

model

berperilaku.

dalam

perilaku

tersebut seperti menjelaskan mengenai Secara umum istilah prososial diaplikasikan

hal-hal

yang

boleh

dan

pada tindakan yang tidak menyediakan

dilakukan saat bermain dengan teman

keuntungan langsung pada orang yang

sepermainan

melakukan tindakan tersebut, dan bahkan

kepada anak mengenai konsekuensi dari

mengandung derajat resiko tertentu (Baron

perilaku yang mereka lakukan) (Eisenberg

& Byrne, 2005). Perilaku prososial dapat

& Fabes, 1998 ). Di luar pengaruh orang tua,

memberikan pengaruh terhadap individu

faktor

dalam melakukan interaksi sosial. Perilaku

sekolah juga dapat memengaruhi perilaku

prososial sendiri dapat berarti berperilaku

prososial.

baik kepada orang lain serta memiliki sikap

Caldwell

mementingkan kepentingan orang lain

prososial anak mungkin dipengaruhi oleh

terlebih dahulu. William (dalam Dayakisni,

teman-teman dekat. Selain itu, semakin

2009) membatasi perilaku prososial secara

baik kualitas persahabatan, maka akan

lebih rinci sebagai perilaku yang memiliki

lebih banyak memengaruhi teman satu

intens untuk mengubah keadaan fisik atau

sama lain dalam berperilaku prososialnya.

(misalnya,

saudara,

teman

Wentzel, (2004)

tidak

boleh

menjelaskan

sebaya,

McNamara,

mengatakan

dan dan

perilaku

psikologis penerima bantuan dari kurang baik menjadi lebih baik, dalam arti secara

Setiap individu memiliki kecenderungan

material maupun psikologis. Dalam hal ini

untuk berperilaku prososial atau tidak,

dapat dikatakan bahwa perilaku prososial

terlepas dari perbedaan jenis kelamin,

bertujuan untuk membantu meningkatkan

sehingga individu memiliki kesempatan

well

yang sama dalam berperilaku prososial.

being

seseorang prososial

orang yang

turut

lain,

dikarenakan

melakukan

tindakan

menyejahterakan

Pada

dan

kenyataannya,

perbedaan

jenis

kelamin ikut memengaruhi individu untuk

membahagiakan kehidupan orang atau

berperilaku

prososial.

penerima bantuan. Ada pun perilaku

penelitian yang dilakukan oleh Becker &

prososial meliputi saling membantu, saling

Eagly (2004) ditemukan bahwa dari 8.706

menghibur, persahabatan, penyelamatan,

penerima

penghargaan

Menurut

warga

hasil

yang

secara sukarela menyelematkan orang lain [223]

Mimbar Sekolah Dasar, Volume 3 Nomor 2 Oktober 2016

- meskipun membahayakan dirinya sendiri -

kelas VI adalah 36 orang, peserta didik laki-

hanya 9% penerima penghargaan tersebut

laki sebanyak 24 orang dan perempuan 12

adalah

orang.

perempuan

(Taylor,

Peplau,

O’Sears, 2009, p. 478). Berbeda dengan hasil

penelitian

yang

dilakukan

oleh

Pengumpulan

Shell

menggunakan instrumen berupa angket

(1987) menyebutkan anak perempuan

atau kuesioner skala perilaku prososial.

lebih siap memberikan bantuan dibanding

Analisis data penelitian dilakukan secara

dengan anak laki-laki (Bierhoff, 2002, p, 27.)

kuantitatif,

Berdasarkan

persentase

Eisenberg, Cialdini, McCreath, &

terlihat

hasil

perilaku

penelitian

prososial

tersebut

individu

data

yaitu

penelitian

dengan

tingkat

menghitung

perilaku

prososial.

ikut

Adapun untuk mengetahui perbedaan

dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin.

antara perilaku prososial peserta didik lakilaki dan perilaku prososial perempuan

METODE

dilakukan uji beda dua rata-rata dengan

Pendekatan

yang

digunakan

ialah

menggunakan uji t.

pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Metode deskriptif bertujuan untuk

HASIL DAN PEMBAHASAN

membuat deskripsi, gambaran atau lukisan

Gambaran

secara

akurat

prososial dari 84 peserta didik kelas tinggi

serta

diperoleh hasil 16 peserta didik (19%)

hubungan antarfenomena yang diselidiki

berada pada kategori tinggi, 57 peserta

(Nazir,

Julia).

didik atau sebesar 68% berada pada

seluruh

kategori sedang dan 11 peserta didik atau

peserta didik SD Miftahul Iman Tahun

sebesar 13% berada pada kategori rendah.

Ajaran 2015/2016 yang terdiri dari kelas

Dengan demikian, secara umum perilaku

tinggi yaitu kelas IV, kelas V dan kelas VI.

prososial peserta didik kelas tinggi SD

Jumlah peserta didik di kelas IV adalah 22

Miftahul

Iman

orang, yang terdiri dari 16 orang laki-laki

sedang

(M=

dan enam orang perempuan. Jumlah

persentase

peserta didik di kelas V adalah 32 orang, 15

prososial setiap aspek dijelaskan pada

orang diantaranya adalah laki-laki dan 17

Tabel 1.

sistematis,

mengenai

fakta-fakta,

2005;

Partisipan

faktual

sifat-sifat

Suhandani,

penelitian

dan

D.,

adalah

&

orang perempuan. Jumlah peserta didik

[224]

umum

mengenai

berada 1,89

63%.

perilaku

pada

kategori

.308)

dengan

Gambaran

perilaku

SD=

Yustiana Amini & Ipah Saripah, Perilaku Prososial Peserta Didik Sekolah Dasar…

Tabel 1. Gambaran Perilaku Prososial Peserta Didik Aspek

N

Berbagi

Rerata

Std. Deviasi

Kategori

67

0,36

Sedang

1,88

62

0,39

Sedang

84

1,88

62

0,46

Sedang

Kejujuran

84

1,91

63

0,50

Sedang

Menyumbang

84

1,76

59

0,42

Sedang

Angka

Persentase

84

2,00

Kerjasama

84

Menolong

Pada Tabel 1

dapat dilihat mengenai

berbagi, kerjasama, menolong, kejujuran

gambaran pencapaian aspek perilaku prososial

peserta

didik

secara

dan menyumbang.

umum.

Perilaku prososial peserta didik berada

Menurut Eisenberg (1989), secara umum

pada kategori rendah, artinya peserta

peserta didik

didik cukup mampu menunjukkan dan

berbagi, dan menyenangkan hati orang

menampilkan

lain

berbagi,

perilaku

prososial

bekerjasama,

seperti

yang

biasanya

senang membantu,

relatif

aktif,

ramah,

menolong,

kompeten, asertif, pandai menempatkan

kejujuran dan menyumbang. Seluruh aspek

diri, dan simpatik. Perilaku prososial akan

berada pada kategori sedang, secara

berkembang

berurutan aspek berbagi memiliki skor

perkembangan kognitifnya. Hasil penelitian

rerata cukup tinggi sebesar 2,00 dengan

menunjukkan bahwa peserta didik kelas

rentang 34-67% dari 100%. Tertinggi kedua

tinggi

merupakan aspek kejujuran dengan skor

menampilkan

rerata sebesar 1,91 atau sebesar 63%

berperilaku prososial. Terdapat beberapa

peserta didik cukup dapat menampilkan

faktor

perilaku

aspek

perilaku prososial terhambat, salah satunya

kerjasama dan menolong memiliki skor

adalah lingkungan dan teman sebaya.

rerata sama yaitu sebesar 1,88 denga

Eisenberg & Paul (1989, p. 7) menyatakan

persentase perilaku sebesar 62% dan aspek

peningkatan perilaku prososial pada anak-

terendah

menyumbang

anak dapat memberikan kontribusi pada

dengan skor rerata sebesar 1,76 atau

perbaikan kondisi manusia, masyarakat

sebesar 59% peserta didik sudah cukup

dan kesejahteraan umum.

kejujuran.

adalah

Sedangkan

aspek

seiring

sebagian

yang

besar

dengan

belum

kemampuannya membuat

dapat dalam

perkembangan

menampilkan perilaku menyumbangnya. Dengan demikian, secara umum peserta

Terdapat beberapa faktor yang dapat

didik belum sudah mampu menunjukkan

mempengaruhi perkembangan perilaku

dan menampilkan perilaku prososial pada

prososial seseorang di luar faktor keluarga,

kehidupan

salah satunya adalah teman sebaya. Clark

sehari-hari

seperti

perilaku

& Ladd (2000) mengemukakan bahwa [225]

Mimbar Sekolah Dasar, Volume 3 Nomor 2 Oktober 2016

perilaku psrososial peserta didik didik ikut

persahabatan

dipengaruhi

berpengaruhi

sebaya,

oleh

artinya

hubungan anak

teman

yang

memiliki

maka pada

akan

perilaku

lebih prososial

masing-masing individu tersebut.

hubungan teman sebaya yang baik, maka anak tersebut juga relatif memiliki perilaku

Selain dilihat dari kelima aspek, gambaran

prososial yang tinggi. Sejalan dengan

perilaku prososial peserta didik juga dilihat

pendapat Wentzel, McNamara & Caldwell

berdasarkan

(2004, p, 5) yang mengemukakan behwa

masing indikator. Gambaran indikator dari

perilaku prososial anak dipengaruhi oleh

tiap aspek perilaku prososial peserta didik

teman

dijelaskan pada tabel berikut.

dekat,

semakin

baik

kualitas

tiap

aspek

dari

masing-

Tabel 2. Gambaran Indikator Perilaku Prososial Peserta Didik Kelas Tinggi SD Miftahul Iman Tahun Ajaran 2015/2016 Aspek

Mean

Indikator Memberi dalam bentuk materi

Berbagi

dengan teman Memberi dan menerima dalam bentuk perasaan dengan teman Mampu

berkontribusi

Kerjasama

dalam

menyelesaikan

dalam

kelompok

bermain Memberikan

bantuan

tanpa

diminta Memberi bantuan pada orang yang tidak dikenal Mengatakan

Kejujuran

sesuatu

tanpa

mengada-ada Tidak berbuat curang dengan orang lain.

Menyumbang

%

Deviasi

2,00

67%

0,45

Sedang

1,95

65%

0,46

Sedang

1,91

64%

0,42

Sedang

1,83

61%

0,48

Sedang

1,93

64%

0,51

Sedang

1,79

59%

0,46

Sedang

2,02

67%

0,51

Sedang

1,74

58%

0,60

Sedang

1,76

59%

0,42

Sedang

tugas belajar Berkontribusi

Menolong

Kategori

Angka

secara

bersama-sama dan bertanggung jawab

Std.

Bersedia memberikan sebagian barang yang dimilikinya untuk orang

yang

membutuhkan

(dalam bentuk beramal)

[226]

Yustiana Amini & Ipah Saripah, Perilaku Prososial Peserta Didik Sekolah Dasar…

Dari semua indikator yang berada pada

persentase kemampuan prososial sebesar

kategori

64%.

sedang

persentase

sebesar

dengan

rentang

34-67%,

indikator

tertinggi pertama adalah mengatakan

Indikator selanjutnya yaitu berkontribusi

sesuatu tanpa mengada-ada (M=2,02.,

dalam kelompok bermain memiliki nilai

SD=0.51), dan memberi dalam bentuk

rerata

materi pada orang lain (M=2,00., SD=0.45)

kemampuan

yang persentase kemampuannya sebesar

untuk indikator rendah lainnya adalah

67%. Indikator tertinggi kedua merupakan

indikator memberi bantuan pada orang

indikator memberi dan menerima dalam

yang tidak dikenal (M=1,79., SD=0.46) dan

bentuk

SD=0.46)

indikator bersedia memberikan sebagian

dengan persentase kemampuan sebesar

barang yang dimilikinya untuk orang yang

65%. Indikator selanjutnya adalah mampu

membutuhkan (dalam bentuk beramal)

berkontribusi secara bersama-sama dan

(M=1,76.,

bertanggung jawab dalam menyelesaikan

kemampuan

tugas belajar (M=1,91., SD=0.42) dengan

sebesar 59%. Indikator terendah adalah

persentase

64%.

tidak berbuat curang dengan orang lain

Kemudian indikator memberikan bantuan

(M=1,74 dan SD=0.60) dengan persentase

tanpa diminta (M=1,93., SD=0.51) memiliki

sebesar 58%.

perasaan

(M=1,95.,

kemampuan

sebesar

1,83

dengan sebesar

SD=0.42)

61%.

dengan

kedua

persentase Sedangkan

persentase

indikator

tersebut

PERILAKU PROSOSIAL 2.5

Axis Title

2 1.5 1 0.5 0

laki-laki perempuan

Berbagi

Kerjasama

Menolong

Kejujuran

Menyumb ang

2.01

1.83

1.79

1.81

1.68

2

1.96

2.03

2.05

1.89

Grafik 1. Gambaran Perilaku Prososial Berdasarkan Perbedaan Jenis Kelamin Dari hasil uji beda kelima aspek perilaku

perilaku prososial peserta didik perempuan

prososial pada peserta didik perempuan

dan

dan

menunjukkan

peserta

didik

laki-laki

terdapat

peserta

didik bahwa

laki-laki. peserta

Hal

ini didik

perbedaan dengan nilai sebesar Sig.(2-

perempuan lebih menunjukkan perilaku

Tailed) 0.020 < 0.05, maka 𝐻1 diterima

prososialnya daripada laki-laki. Perbedaan

artinya

tersebut tidaklah terlalu signifikan karena

terdapat

perbedaan

antara [227]

Mimbar Sekolah Dasar, Volume 3 Nomor 2 Oktober 2016

pada

dasarnya

perempuan

setiap

dan

individu,

laki-laki,

baik

serta

memiliki

keterlibatan

diperlukan

teman

untuk

sebaya

mengembangkan

kesempatan yang sama dalam melakukan

kognitifnya dan membantu anak untuk

perilaku prososial. Skor rata-rata perilaku

terlibat aktif dalam kehidupan sosial (Hine,

prososial peserta didik perempuan adalah

2013, p, 17). Studi meta-analisis yang

sebesar

persentase

dilakukan oleh Eisenberg & Fabes (1998)

kemampuan prososial sebesar 67% dan

menyebutkan bahwa terdapat stereotip

skor rata-rata perilaku prososial peserta

yang berkembang di masyarakat yang

didik

menunjukkan perempuan lebih prososial

2,00

laki-laki

dengan

adalah

1,83

dengan

persentase sebesar 61%.

daripada laki-laki. Perempuan dipandang lebih menunjukkan perilaku prososialnya

Secara umum berdasarkan hasil yang

melalui perasaan-perasaan dan bentuk

didapat

perhatian kepada orang lain, sedangkan

bahwa

skor

rerata

perilaku

prososial pada dua kelompok sampel

laki-laki

lebih

menunjukkan

menunjukkan perilaku prososial peserta

prososialnya

didik perempuan cenderung lebih tinggi

menolong secara langsung (Eisenberg &

daripada peserta didik laki-laki kelas tinggi

Mussen, 1989).

dalam

perilaku

bentuk

nyata

SD Miftahul Iman Tahun Ajaran 2015/2016. Jika dilihat dari signifikansi pada perilaku

Anak laki-laki cenderung lebih agresif dan

prososial peserta didik perempuan dan

lebih aktif dengan melakukan kegiatan

peserta

yang

didik

laki-laki

tidak

terlihat

perbedaan yang signifikan.

berhubungan

dengan

fisik

sedangkan anak perempuan cenderung lebih emosional, kooperatif dan bersifat

Beberapa studi menunjukkan bahwa anak

membantu

perempuan terlihat lebih menunjukkan

penilaian

perilaku prososialnya daripada anak laki-

evaluasi diri (Cook & Cook, 2009, p, 362).

laki, namun tidak terlalu signifikan. Stereotip

Anak perempuan juga cenderung untuk

gender

menacari

yang

beredar

di

masyarakat

karena dari

dan

sering

menerima

dan

melakukan

orang

menerima

bantuan

adalah bahwa anak perempuan lebih

daripada anak laki-laki, studi menunjukkan

altruistik

perempuan

bahwa anak perempuan lebih mudah

cenderung lebih menunjukkan perilaku

dipengaruhi dibandingkan anak laki-laki

prososialnya

(Eisenberg & Fabes, 1998). Serbin et, al.

sehingga

(Eisenberg Lingkungan

&

anak

daripada

anak

Mussen,

1989,

sosial

p,

58).

(1994)

menyebutkan

bahwa

saat

cukup

mencoba untuk memengaruhi orang lain,

kontribusinya dalam memberi pengaruh

anak laki-laki cenderung menggunakan

terhadap perkembangan perilaku anak,

ancaman dan kekuatan fisik, sedangkan

terutama

anak

dalam

memberikan

laki-laki

melakukan

perilaku

prososial. Ajaran dari orang tua dan guru [228]

perempuan

cenderung

Yustiana Amini & Ipah Saripah, Perilaku Prososial Peserta Didik Sekolah Dasar…

menggunakan persuasi

lisan (Cook &

menampilkan dan menunjukkan perilaku

Cook, 2009).

prososialnya dan memerlukan bantuan untuk

Perbedaan

perilaku

perempuan

dan

prososial

meningkatkan

dan

antara

mengembangkan kemampuannya dalam

terus

berperilaku prososial; dan 2) terdapat

berkembang dan akan meningkat seiring

perbedaan perilaku prososial pada peserta

dengan

didik perempuan dengan peserta didik

laki-laki

bertambah

akan usia

dan

perkembangan kognitifnya. Eisenberg &

laki-laki.

Peserta

didik

perempuan

Fabes (1998) menyatakan sedikit terjadinya

cenderung lebih menunjukkan perilaku

perbedaan antara perempuan dan laki-

prososialnya daripada peserta didik laki-

laki pada usia anak-anak, namun pada

laki. Perbedaan perilaku prososial tersebut

usia remaja perbedaan tersebut akan

tidaklah signifikan terjadi, oleh karena itu

terlihat cukup signifikan.

baik peserta didik perempuan maupun peserta didik laki-laki sama-sama memiliki

Secara keseluruhan dari hasil penelitian,

kesempatan untuk menunjukkan perilaku

perbandingan

prososialnya.

prososial

skor

peserta

tingkat

didik

perilaku

laki-laki

dan

perempuan kelas tinggi di SD Miftahul Iman

REFERENSI

dengan

Baron, R. A., dan Byrne, D., (2005). Psikologi sosial jilid 2 (edisi 10). Jakarta: Erlangga.

menggunakan

menunjukkan

hasil

bahwa

uji

T-test terdapat

perbedaan yang tidak terlalu signifikan

Clark, K. E., & Ladd, G. W. (2000). Connectedness and autonomy support in parent-child relationships: Links to children's socioemotional orientation and peer relationships. Developmental Psychology, 36, 485–498.

antara perilaku prososial peserta didik perempuan dan laki-laki di SD Miftahul Iman. Hal tersebut memungkinkan bahwa faktor perbedaan jenis kelamin tidak terlalu

Cook, J. L & Cook, G. (2009). Child Development Principles and Perspectives. P: 362-365.

berpengaruh terhadap perilaku prososial peserta didik, khususnya peserta didik di kelas tinggi SD Miftahul Iman.

Dayakisni, T. dan Hudaniah. (2009). Psikologi Sosial. Malang: UMM Press.

SIMPULAN Berdasarkan

hasil

penelitian

Eisenberg, N., & Fabes, R.A.(1998). Prosocial Development. In W. Damon, (Ed.), Handbook of child psychology: Social, emotional, and personality development (Vol. 3, pp. 701–778). New York: Wiley.

dan

pembahasan mengenai perilaku prososial peserta didik kelas tinggi SD Miftahul Iman, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) pada umumnya perilaku prososial pada

Einsberg, N., & Mussen, P. H. (1989). The roots of prosocial behavior in children. Ney York: Cambridge University Press.

peserta didik kelas tinggi SD Miftahul Iman Bandung berada pada kategori sedang.

Hine, B. A. (2013). Investigating the Developing Relationship Between

Artinya peserta didik sudah cukup mampu [229]

Mimbar Sekolah Dasar, Volume 3 Nomor 2 Oktober 2016

Gender and Prosocial Behavior. Psychology Press: University of London. Kartono, K. (2003). Kamus Bandung: Pionir Jaya.

psikologi.

Suhandani, D., & Julia, J. (2014). IDENTIFICATION OF TEACHER COMPETENCE REFLECTING TEACHER PROFESSIONALISM IN THE SUMEDANG DISTRICT (STUDY ON PEDAGOGICAL COMPETENCE). Mimbar Sekolah Dasar, 1(2), 128-141. doi:http://dx.doi.org/10.17509/mimbarsd.v1i2.874. Wentzel, K. R., McNamara, B. C., & Caldwell, K. A. (2004). Friendships in middle school: influences on motivation and school adjustment. Journal of Education Psychology, 96(2), 195–203.

[230]