PROSIDING

Download 14 Ags 2009 ... tinggi gumba; lebar dan tinggi pinggul; lingkar perut; dalam, lebar dan lingkar dada, panjang, lebar, diameter dan tinggi a...

0 downloads 365 Views 697KB Size
Prosiding 1.:

Seminar Nasional Telmologi Peternal(an dan Veteriner

:f

"Teknologi Peternakan dan Veteriner Mendukung Industrialisasi Sistem Pertanian untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Peternak"

,\

Bogor, 13r 14 Agustus 2009

Penyunting

Yulvian Sani Lily Natalia Gram Brahmantiyo Wisri Puastuti Tike Sartika Nurhayati Anneke Anggraeni Rasali H. Matondang Eny Martindah Sarwitri Endah Estuningsih

Penyunting Pelaksana : Chairunisa Syafitrie Linda Yunia Eko Kelonowati Muladi

ISBN 978-602-8475-15-0

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian

2010

r

I

Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner "Teknologi Petemakan dan Veteriner MenduIcung Industrialisasi Sistem Pertanian untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Peternak"

Hak Cipta © 2010. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Jalan Raya Pajajaran Kav. E 59, Bogor 16151 Telp. : (0251) 8322185 Fax. : (0251) 8380588 E-mail: [email protected]

r lsi prosiding dapat disitasi dengan menyebutkan , sumbernya.

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Prosiding Seminar Nasional Tekno1ogi Petemakan dan Veteriner. Diselenggarakan di Bogor tanggal 13 - 14 Agnstus 2009.- Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, 2010: xix + 845 halarnan; ills.; 29,7 cm. ISBN 978-602-8475-15-0 1. Petemakan I. Judu!

2. Veteriner II. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan III. Yulvian Sani 636

Seminar NQ£ionai Teknologi Pc(crnakan dan Vele,.iner 2()()9

KATA PENGANTAR Hasil-hasil penelitian dalam bidang petemakan sudah secara rutin didiseminasikan kepada masyarakat secara langsung dan tidak langsung olell Pusat Penelitian dan Pengembangan (puslitbang) Petemakan. Pada bulan Agustus 2009 Puslitbang Petemakan tdah melaksanakan Seminar Nasional Teknologi Petemakan dan Veteriner, yang dihadiri oleh berbagai Irnlangan akademisi dan teknisi dari instansi penelitian, dinas/instansi pemerintah dan perguruan tinggi terkait, para praktisi bidang peternakan dan wakil dari beberapa lembaga swadaya masyarakat. Seminar kali ini memilih tema "Teknologi Petemakan dan Veteriner Mendukung Industrialisasi Sistem Pertanian untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petemak", bertujuan untuk: i) meningkatkan infonnasi IPTEK untuk menunjang usaha petemakan yang menguntungkan masyarakat; ii) sebagai forum pertukarau infonnasi, teknologi petemakan dan veteriner, serta sosialisasi hasil hasil penelitian; iii) meningkatkan jejaring infonnasi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, praktisi petemakan, serta pengguna jasa petemakan dan veteriner. Seminar ntsional teknolegi petemakan dan veteriner telah menampilkan 7 makalah undangan, yang terdiri dari 2 (dua) pemakalah dari luar negeri dan 5 (lima) pemakalah dari dalam negeri. Disamping itu makalah penunjang yang dipresentasikan secara oral sebanyak 36 (tiga puluh enam) makalah dan lainnya sebanyak 84 (delapan puluh' empat) makalah disampaikan dalarn bentuk poster. Pemakalah undangan dari luar negeri antara lain Dr. Prasadh N. Kuduvalli berasal dari Biosecurity Engagement Program, USA Department ofState dengan topik "Biosafely Principle on Livestock and Veterinery Aspect (BSL-3 Veterinary); serta Dr. Dennis Poppi berasal dari School ofAnimal Studies and Veterinery Science University of Queensland, Queensland, Australia dengan topik "A Summary ofACL4R Research Result on Animal Production in Indonesia". Sedangkan pemakalah undangan dari dalam negeri antara lain Puslitbang Petemakan (UPT lingkup Puslitbang Peternakan) dengan topik "Hasil-Hasil Penelitian Lingkup Puslitbang Peternakan" (Ebalilvet. Balitnak, Lolitsapo. Lolitkapo dan Puslitbang Petemakan). dan beberapa makalah dari petemak sukses dengan topik (I) Strategi pengembangan industri sapi potong menuju ketahanan pangan nasional dari PT Lembu Jantan Perkasa: (2) Sistem petemakan ayam ras organik yang berintegrasi dari Palupi Fann; serta (3) Prospek industri domba dari Tawakal Fann. Makalah penunjang yang dipresentasikan baik oral maupun poster berasal dari berbagai instansi terkait yang tersebar di sduruh propinsi di Indonesia seperti LIPI, BATAN, Perguruan Tinggi. dan lingkup Badan Litbang Pertanian tennasuk PuslitbangIBalai Besar dan BPTP. Sesuai dengan temanya. hasil-basil penelitian yang dihimpun dalam prosiding ini diharapkan dapat menambah infonnasi pengetahuan yang terkait dengan bidang petemakan, dimana hal ini juga clapat mempercepat alih teknologi basil penelitian unggulan untuk pengembangan agribisnis petemakan. Forum ini juga dapat berperan sebagai sarana infonnasi dalam membangun kerjasama antar institusi terkait dengan pihak swasta maupun praktisi petemakan, selain masukan, gagasan dan pengetahuan bagi para pengambil kebijakan dalarn upaya untuk meningkatkan kesejahteraaJ,1 masyarakat petemak. Bogor, Januari 2010 Kepala Pnsat Penelitian dan Pengembangan Petemakan

Dr. Darminto

iii

.................­

Seminar Nasional Teknologi Pelemakcm dan Veteriner 2009

DAFTARISI Halaman KATA PENGANTAR

iii

SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG PERTANIAN

iv

RUMUSAN BASIL SEMINAR

vi

DAFTAR lSI...

ix

MAKALAH UNDANGAN Prospek Industri Domba Menuju Ketahanan Pangan Nasional H. BUNYAMlN

3'

'"

Betemak Ayarn Ras Terintegrasi dengan Pertanian dan Perikanan

BAMBANG SETIYONO

8

Hasil-Hasil Penelitian Unggulan Balai Besar Pen~litian Veteriner Tahoo 2005 ­

2008

R.M. ABDUL ADlID dan DARMlNTO

II

Hasil-Hasil Penelitian Balai Penelitian Temak TA 2006 - 2008

SOFJAN ISKANDAR..........................................

18

Hasil-Hasil Penelitian Sapi Potong untuk Mendukung Agribisnis Petemakan

MARlYONO :

28

Ulasan Hasil-Hasil Penelitian di Loka Penelitian Kambing Potong

SIMON P. GINTlNG...........................

43

Strategi Pengembangan Industri Sapi Potong Menuju Ketahanan Pangan N asional

HARlANTO BUDI RAHARDJO

52

MAKALAH PENUNJANG RUMINANSIA BESAR Keragaman Morfologi dan Diferensiasi Genetik Sapi Peranakan Ongole di

Petemakan Rakyat

HARTATI, SUMADI, SUBANDRlYOdan T. HARTATIK

59

Peningkatan Mutu Genetik Sapi PO Melalui Penyebaran Pejantan Unggul Hasil

Unit Pengelola Bibit Unggul (upBU)

AINUR RASYID, L. AFFANDHY dan C.W. PRATlWI.................

60

Fixed Regression Test Day Model sebagai Solusi pada Pendugaan Nilai

Pemuliaan Sapi Perah

HENI INDRUANI dan A. ANANG

67

ix

~

'I Seminar Nasional Teknologi Pelernokan dOll Veteriner 2009

Pengkajian Sistem Pembibitan Sapi Bali pada Petemakan Rakyat di Kabupaten Takalar MATHEUS SARIUBANG, A. NURHAYU danA. SAENAB

68

Implementasi Sinkronisasi Ovulasi Menggunakan Gonadotrophin Releasing Hannon (GNRH) dan Prostaglandin (PGF2a) pada Induk Sapi Bali DIANRATNAWATl dan L. AFFANDHY

72

Persentase Karkas Sapi Bali pada Berbagai Berat Badan dan Lama Pemuasaan Sebelum Pemotongan HARAPINHAPIDH. dan N. RUGAYAH

77

Keragaan Body Condition Score dan Produksi Susu Sapi Perah Friesian-Holstein di Petemakan Rakyat KPSBU Lembang, Bandung A. SUKANDAR, B.P. PURWANTO dan A. ANGGRAENI......

86

Kelayakan Roti Sis:! Pasar sebagai Pakan Alternatif Berdasar Pemanfaatan Kecemaan Energi dan Parameter Darah pada Sapi Peranakan Ongole KAYYIS CHALIMI, A. ROCHIM, E. PURBOWATl, SOEDARSONO, E. RIANTO dan A. PURNOMOADI

100

Perbaikan Kualitas Pakan Sapi Melalui Introduksi Leguminose Herba dalam Menunjang Program Keeukupan Daging Nasional di Kabupaten Timor Tengah Selatan SOPHIA RATNAWATY danP.TH. FERNANDEZ

107

Eftsiensi Peningkatan Produksi Susu Melalui Suplementasi Bovine Somatotropin dan Pengaturan Masa Laktasi pada Sapi Praafkir DZARNISAARABY,B.P.PURwANTOdanY.ZAKARIA

113

Introduksi Beberapa Jenis Rumput serta Pola dan Estimasi Kurva Pertumbuhan Sapi Friesian-Holstein di Wilayah Kerja Bagian Timur KPSBU Lembang RIVA TAZKIA dan A. ANGGRAENJ

121

Studi Awal Perfonna Sapi Perah FH x Ongole Dara di Dataran Rendah LISA PRAHARANJ, HASTONO, D.A. KUSUMANINGRUM dan P. SITUMORANG

136

Apakah Perubahan Konsumsi Mempengaruhi Keeratan Hnbungan Antara Kreatinin dengan Bobot Badan? AYU SEPTl ANGGRAENI, A. PURNOMOADI, E. PURBOWATl danE. RIANTO

145

Strategi Pemasyarakatan Teknologi Penggemukan Sapi di Desa Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan DIDIEKAGUNG BUDIANTO dan S. RATNAWATY

151

Pengaruh Lingkar Serotum dan Volume Testis Terhadap Volume Semen dan Konsentrasi Spenna Pejantan Simmental, Limousin dan Brahman IRENE SUMEIDIANAKUSWAHYUNI

157

x

I!.

Seminar Nasionaf Teknofogi Pel('rnakall dan Veteriner 2009

Produlctivitas Sapi Peranakan Ongole Jantan pada Berbagai Tingkatan Bobot Badan TAUFAN REZA SYUHADA, E. RIANTO, E. PURBOWATl, A. PURNOMOADl dan SOEPARNO

163

Kualitas Semen Pejantan Sapi Peranakan Ongole (PO) dengan Perlakuan Pemberian Sumplemen Tradisional Berbeda LUKMAN AFFANDHY, w.e. PRATlWI danD. RATNAWATl...........................

173

Profil Pembibitan Sapi Potong Peranakan Ongole (PO) di Kelompok Temak Bango Jaya Kota Probolinggo DICKY M. DIKMAN, P.W. PRIHANDANI dan Y.N. ANGGRAENY

181

Kelayakan Usaba Temak Kerbau untuk Penghasil Bibit dan Daging di Beberapa Agroekosistem UKA KUSNADl ""'"

186

'I' Potensi Laban Pengembangan Sapi Potong Menunjang Ketersediaan Daging di Kabupaten 50 Koto, Sumatera Barat SUMANTO dan E. JUARINI !.................................................

193

Nilai Biologis SUbstitusi Suplemen Pakan Multinutrien pada Hijauan Sorgum sebagai Pakan Temak Ruminansia Secara In Vitro LYDIA ANoINI, SHINTA dan SUHARYONO

201

Pengkajian Suplementasi FML dan Kombinasinya dengan Perlakuan Defaunasi pada Ransum Sapi Perab Laktasi MOHAMMAD ALI YUSRAN, SETlASIH, F. KASIJADI dan MARIYONO ........ :..........

208

Pemanfaatan Protein PakBn dan Produksi Protein Mikroba pada Sapi Peranakan Ongole (PO) yang Diberi Pakan Roti Sisa Pasar sebagai Pengganti Dedak Padi ANDHlKA DIYATMOKO, M.R.H. FITRIANTO, E. RIANTO, E. PURBOWATl, M. ARIFIN . dan A. PURNOMOADI

1\ i_":l

~l

~ , "

%i

~

220

Produktivitas dan Perubahan Komposisi Tubuh Sapi Peranakan Ongole yang Diberi Pakan Jerami Padi Terurinasi dan Level Konsentrat yang Berbeda MULYADI, A.S. WULANDARJ, E. PURBOWATl, E. RIANTO, SOEPARNO dan A. PURNOMOADI

226

Profil Tata Laksana Pemeliharaan dan PakaJl Sapi Potong Pembibitan di Daerah Sentra Industri Tepung Tapioka Skala Rakyat; Studi Kasus di Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta RISA ANTARI dan U. UMIYASIH ''''''

233

Potensi Jerami Padi Hasil Fermentasi Probion sebagai Bahan Pakan dalam Ransum Sapi Simmental ANTONIUS....

240

Komposisi Kintia Daging Sapi Peranakan Ongole yang Diberi Pakan Jerami Padi Urinasi dan Level Konsentrat yang Berbeda R. HIDAYAT, E. PURBOWATl, M. ARIFIN dan A. PURNOMOADI.................................

246

xi

I ~

", I"

I , ,

Seminar Nasionul Tr:knulogi Peternak(J.Jt don Yeteriner ]O()9

, \'

:,'

I II II

I

" ,

"I'

11"1\ I" \

1,,1

Perltimbuhan Sapi Peranakan Ongole (PO) Akibot Pemberian Level Konsenlrat yang Berbeda F.F. OrnATA, R. ADlWrNARTI dan W.S. D1LAGA ..

252

Pengaruh Fennentasi Saccharomyces cerevisiae Terhadap Kandungan Nutrisi dan Kecemaan Ampas Pati Aren (Arenga pinnata MERR.) . Y.N: ANGGRAENY dan U. UMIYASIH

256

Kajian Termoregulasi Sapi Perah Periode Laktasi dengan Introduksi Teknologi

Peningkatan KuaIitas Pakan B. UTOMO, D. MlRANTI dan G.G INTAN .

263

Status Nutrisi Sapi Jawa Yang Dipelihara Petani Petemak Kecarnatan

BandarhaIjo Kabupaten Brebes (Studi Pendahuluan) .. C.M. SRI LESTARI, SOEDARSONO, A. PURNOMOADl dan E. PANGESTU

269

Pengaruh Penggunaan Ampas Pati Aren dalam Ransurn Sapi PO yang

Mendapatkan Pakan Basal Jerami Padi, Studi Terhadap Konsumsi dan Nilai

Kecemafumya UUM UMIYASIH, Y.N. ANGGRAENY dan R. ANTARI ..

275

Pengaruh Pemberian Ransum Berimbuhan Kunyit, ZN Proteinat, dan CU Proteinat Terhadap Penurunan Status Mastitis Subklinis pada Sapi Perah Fries Holland DIDlN S. TASRJPrN ..

283

Inaktifasi Bacillus anthracis dengan Iradiasi Sinar Gamma LILY NATALIA, A. PRIADl dan Z. IRAWATI

289

Penyakit Sapi di Puskeswan Godean Tahun 2006 - 2008 WlDODO SUWtTO dan S. NURrNI

290

Aktivitas Air Perasan dan Ekstrak Elanol Daun Encok Terhadap Bakteri yang

Diisolasi dari Sapi Mastitis Subklinis

MASNIARI POELOENGAN

300

Acidity Contents and Protease Activities of Skim and Whole Milk wilh Addition of Acetobacter seeti at Various Times of Storage

TATtKKHUSNIATI, YULJAWATI dan A. CHOLlQ

306

Evaluasi Pembangunan Petemakan di Bangka Belitung dalam Mendukung

P2SDS20IO

HAsNELLY Z., A. PHOPPY, 1. AUDlAH, SUWARDlH dan A. HERMAWAN

3I3

Tinjauan Gizi, Finansial dan Mikroslruktur Otol dari Sapi G1onggongan AMRJH PRASIITYO, T. PRASETYO dan SUBANDRIYO

322

Profil Petemak dan Karakteristik Temak Kerbau Rawa Lokal yang Jadi Pilihan Peternak di Kabupaten Samosir Snrnatera Ulara RI.M. SrrANGGANG, T.W. MURTI dan T. HARTATIK

333

I!I,

III;

('

, "

I' ~ , ,

~!' , '

" ,

I~II 1, 1

\'

\1,1,

II!II 111 1 \

'"

'"

I~I ',I

'I

1,;1

\"'1

1)1

:I I :!I

I,,: I,,!\ 1:11, I!'II

11'1

\1'1 !"I'

1,,1 I!III

1,,1

II\'1'

,,' II 1"\\

1"\' III1 I ,I!] I II!I\ \11'

"ll

1 III

III I

,'I'

I,

"

II!

'I' I

xii

Seminar Nasional Teknologi Petemakan dan VeterilJer 2009

II

Ii "r,~ '¥, i"\ ~

~

Ij=t,

'i

Potensi dan Kesesuaian Wilayah untuk Petemakan Sapi Potong di Perkotaan (Studi Kasus Kecamatan Kuranji Kola Padang) I.G.M. BUDIARSANA, ASHARl, E. JUARlNI dan B. WIBOWO

340

Kelembagaan Agribisnis Pembibitan Sapi Potong Sistem Komunal di Wilayah Pesisir Kecamatan Srandakan Kabupaten Bantul SINUNG RUSTIJARNO

349

Teknologi Manajemen Penanganan dan Pengamanan Produksi Susu Menduknng Peningkatan Harga Susu, Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Peternak ROOSGANDA ELIZABETH dan A. ASKIN

359

RUMINANSIA KECIL

Reproduksi Awal Kambing Kacang dan Boerka-I di Loka Penelitian Karubing -' Potong FERA MAHMILIA, M. DOLOKSARJBU, S. NASVTlON dan S.HASIBUAN

367

Isolasi Solasodin dari Buah Sola/lunl Khasia/lum $ebagai Bahan Aktif Pembentuk Progesteron UMI ADIATI, D.A. KUSUMANINGRUM, T. HARYATI dan T. KOSTAMAN

373

Pertumbuhan Anak Kambing Kosta Selama Periode Prasapih Pada Induk yang Berumur Lebih dati 4 Tahun FITRA An PAMUNGKAS

378

Konsentrasi VFA Rumen pada Domba Ekor Tipis Ianlan yang Mendapatkan Suhu Lingkungan dan Aras Pemberian Pakan yang Berbeda MUKH ARIFIN, LM. KUSUMA dan SUNARSO

383

Teknologi Reproduksi Menunjang Program Penggemukan Ternak Domba HASTONO

389

Pengaroh Umur Induk Saat Beranak Terhadap Produktivitas , '" ... ...

FERA MAHMILIA

..

.. ...

395

Pengaruh Rasio Protein Kasar dan Energi Terhadap Komposisi Kimia dan Kualitas Fisik Daging pada Domba Lokal A.S. SUPARNO, A.A.K. RUKMI, R. ADIWINARTl, E. PURBOWATI, M. ARJFIN dan S. MAWATI

399

Keluaran Kreatinin Lewat Urin dan Hubungannya dengan Protein Tubuh pada Domba pada Berbagai Imbangan Protein· Energi RAHMAWATlK.S., E. RIANTO, S. MAWATldan A. PURNOMOADI

406

Analisis Ekonomi Usaha Temak Kambing PE sebagai Ternak Penghasil Susu dan Daging LG.M. BUVIARSANA

411

xiii

Seminar Nasional Teknofogi Petemakan dOll Velerjner 2{)09

I

Pengaruh Level Konsentrat Terhadap Pernanfaatan Energi Pakan dan Produksi

Nitrogen Mikroba pada Sapi Peranakan Gngole F. KURNIASARI, N.A. RAHMADANI, R. ADlWINARTI, E. PURBOWATI, E. RIANTO

dan APURNOMOADl , .

419

Pemanfaatan Mucuna bracteala untuk Pakan Karnbing: Produksi, Nilai Nutrisi,

Palatabilitas dan Kecemaan

JUNIAR SIRAIT, K. SIMANIHURUK, dan JUNJUNGAN

425

Pengaruh Kombinasi Penggunaan Probiotik Mikroba Rumen dengan Suplernen

Katalitik pada Pakan Terhadap Kecernaan dan Karakteristik Rumen Domba

RANTANKRISNAN, B. HARYANTO dan K.G. WIRYAWAN

434

Performaus Kambing Sedang Tumbuh yang Mendapat Pakan Tambahan

Mengandung Silase Kulit Buah Kakao

JUNJUNGAN SIANIPAR dan K. SIMANIHURUK

435

Ransum Berbasis Kulit Buah Kakao Diperkaya Mineral: Tinjauan pada Kecemaan dan Ferrnentasi Rumen In Vitro WISRI PUASTUTI, D. YULISTIANI dan SUPRIYATI

442

Pemanfaatan Leguminosa Pohon Indigo/era sp. sebagai Pakan Basal Kambing

Boerka F ase Pertumbuhan

KISTON SlMANIHURUK dan J. SIRAIT.........................................................................

449

Pengaruh Imbangan Protein dan Total Digestible NUlrients yang Berbeda

Terhadap Presentase Karkas, Edible Portion, Meat Bone Ratio dan Yield Grade

Domba Lokal Jantan

M.R.B. PRAKOSO, F. MULlA, F.A. SETYAWATlE, S. DARTOSUKARNO, S. MAWATI, E. RIANTO, R. ADIWlNARTI dan SOEDARSONO

456

,-

I.

Lumpur Minyak Sawit Kering (Dried Palm Oil Sludge) sebagai Pengganti Dedak

Padi pada Pakan Ruminansia HARFIAH ..,

,.. ,

"

"

"

,.................

Komposisi Kimia Daging Domba yang Digemukkan Secara Feedlot dengan

Pakan Komplit Berkadar Protein dan Energi yang Berbeda

E. PURBOWATI, C.1. SUTRISNO, E. BALIARTI, S.P,S, BUDHI dan W. LESTARIANA.. Evaluasi Centroserna macrocarpurn sebagai Pakan Temak E. SUTEDl dan A. FANlNDl

463

468

. 476

Penggunaan Solid Ex-Decanter sebagai Perekat Pembuatan Pakan Komplit

Berbentuk Pelet: Evaluasi Fisik Pakan Komplit Berbentuk Pelet

RANTANKRISNAN dan S.P. GlNTING

480

Pengaruh Pencampuran Cairan Batang Pisallg dan Pemauasan Terhadap

Degradasi Bungkil Kedelai di Dalam Rumen Domba

DWtYULlSTIANI, W. PUASTUTI dan loW. MATHIUS

487

xiv

Seminar Nasiollo1 Teknofogi Pereri/akan dan Veleriner )00')

Upaya Mewujudkan Kelahanan Pakan Ternak Berkelanjutan Melalui Kegiatan Usaha Konservasi Lahan dan Air ISBANDI dan HUSEIN SUGANDA

488

Pengendalian Infestasi Caeing Haemonchus contortus Menggunakan Ekstrak Daun Nenas pada Kambing PE LUH GDE SRI ASTITI dan T. PANJAITAN

494

Karakteristik Daging Kambing dengan Perendaman Enzim Papain ROSWITA SUNARLIM dan S. USMIATI........................................................................

499

Kontribusi Tanaman Ubi Kayu dan Temak Kambing Terhadap Pendapalan Petani: Analisis Ekonomi (Kasus di Kota Bogor) S. RUSDIANA dan R.A. SAPTATI

507

Transfer Inovasi Teknologi Pencegahan Penyakit Skabies dan Cacing pada Petemakan Kambing di Lahan MaIjinal, Lombok Timur MURTIYENI,.e;. JUARINI dan J. MANURUNG

515

Pengaruh EIlZim Papain Terhadap Mutu daging Kambing Selama Penyimpanan AGUS BUOlYANTO dan S. USMIATI ,................................................

523

Konflik Kepentingan Usaha Ternak Domba Digembalakan di Areal Perkebunan Tebu di Jawa Barat DWI PRlYANTO dan E. HANDIWlRAWAN........

528

Diversifikasi Tanaman Perkebunan dan Temak Kambing di Lahan Marginal, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur DWI PRIYANTO dan DEBORA KANA HAU

536

Pemetaan Distribusi Temak Domba Berdasarkan Rumpun dan Agroekosistem di Kabupaten Cianjur E. JUAR!NI, SUMANTO, B. Wrnowo dan SURATMAN

546

NON RUMINANSIA

:1'

.,

" ~

,{

Kandungan Protein Kasar dan Serat Kasar pada Feses Ayaru yang Difermentasi dengan Lactobacillus sp. JAMILA, F.K. TANGDILINTIN dan R. ASTUTI

557

Pengaruh Beberapa Bahan Pengawet Nabati Terhadap Nilai Haugh Unit, Berat dan Kualitas Telur Konsumsi Selama Penyimpanan MARSUDIN SILALAHI

561

Kandungan Nutrisi Carupuran Ampas Sagu (Metroxi/on sago) dan Feses Broiler yang Difermentasi dengan Berbagai Level EM4 ROHMlYATULISLAMlYATI

568

xv

Seminar Nosional Tekllologi Peternakoll dall Jleter;lIer 20()!J

Pengaruh Berbagai Cekaman Terhadap Beberapa Sistem Honnonal Serta

Kaitannya dengan Produksi pada Ayam

ENGKUS KUSNADI , .

572

Pengaruh Berbagai Cekaman Terhadap Perubahan Beberapa Komponen dan Biokimia Darah Unggas ENGKUS KUSNADI '" ..

580

Perfonna dan Kualitas Karkas Ayam Pedaging yang Diberi Pakan Tambahan Ampas Buah Merah (Pandanus conoideus) lIs YUANITA, S. MURTINI dan IMAN RAHAYU H.S

586

.

Persentasi Karkas Ayam Pedaging yang Diberi Tepung Cacing Tanah sebagai Suplemen Pakan Pengganti Antibiotik A'iDIFEBRISIANTOSA, A. SOFYAN, H. JULENDRA dan E. DAMAYANTI

594

Pertumbuhan ;)(yam Buras Periode Grower Melalui Pemberian Tepung Biji Buah Merah (P. conoideus LAMK) sebagai Pakan Altematif USMAN

.

599

Pengujian Oligosakarida Ekstrak Tepung Buah Rumbia (Metroxylon sago

ROTTB.) sebagai SumberPrebiotik dalam Ransum Ayam Pedaging (In Vitro)

MUHAMMADDAUD, W.G. PILlANGdanK.G. WIRYAWAN .

605

Pengaruh Pemberian Level Protein-Energi Ransum yang Berbeda Terhadap Kualitas Telur Ayam Buras SADDATNASUTION dan ADRIZAL .

613

Perbaikan Teknologi Usaha PemelilIaraan Itik sebagai Salah Satu Sumber

Pendapatan Keluarga (Studi Kasus di Desa Bumi Berkat, Kecamatan Sungai

Raya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan)

.. ENl SIT! ROHAENI, A. HAMDAN dan A. DARMAWAN Peningkatan Kecemaan Protein dan Energi Bungkil Inti Sawit Fennentasi pada Ayam Broiler PHlLlPUS SEMBIRING . Pengaruh Penggunaan Kombinasi Sagu Kukus dan Tepung Keong Mas dalam

Fonnulasi Pakan Terhadap Perfonnans Itik Jantan MA Umur I - 8 Minggu

AH/.\AD SUBHAN, E.S. ROHAENI dan R. QOMARIAH

619

626

633

.

Pengaruh Perkembangan Sistem Produksi Ayam terhadap Perubahan Genetik dan

Biologik Virus Newcastle Disease

SUOARISMAN

.

640

Status Kesehatan Ayam Pedaging Yang Diberi Ransum Mengandung Ampas Buah Merah (Pandanus conoideus) SRI MURTlNI, IMAN RAHAYU H.S. dan I. YUANITA .

641

xvi

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veleriner 1009

Karakteristik Isolat Pasteurella multocida yang Diisolasi dari Kasus Kolera Unggas di Petemakan Pembibitan Ayam . ADIN PIADI dan L. NATALIA

648

Pe1uang Penggunaan Kulit Singkong sebagai Paka" Unggas CECEP HIDAVAT

..

655

Suplementasi Enzim Pemecah Serat dan Fitase Terhadap Performans Ayam Broiler S. TIRAJOH, W.G. PILIANG dan P.P. KETAREN ..

666

KuaIitas Organoleptik Daging Ayam Kampung dengan Pemberian Jus Nenas Muda dan Lama Perendaman Berbeda NOVARuGAYAH .

667

Pemanfaatan ]Calsium Kapur dan Kulit Kerang untuk Pembentukan Cangkang dan Mobilisa'Si KaIsium Tulang pada Ayam Kedu S. SETYANINGRUM, H.I. WAHVUNI dan B. SUKAMTO .

674

Cemaran Staphyloccus aureus pada Daging Ayam lIan Olahannya Sm CHOTIAH

.

682

Karakteristik Karkas dan Pemotongan KomersiaI Kelinci Rex dan Satin BRAM BRAHMANTIYO dan Y.C. RAHARJO

.

688

Karakteristik Reproduksi Kelinci Rex, Satin dan Reza BRAM BRAHMANTIYO, Y.C. RAHARJO, N.P. SAWITRI dan M. DULDJANA

..

693

LAIN-LAIN

Produksi Hijauan dan Biji Leguminosa Arachis plntol pada Berbagai Jenis Pemupukan ACHMAD FANINDI, S. YUHAENI, E. SUTEDI dan Ovo

701

Deteksi Antigen Virus Rabies pada Jaringan Otak Imunohistokimia RINI DAMAYANTI, ALFINUS, I. RAHMADANI dan FAISAL

707

dengan

Metode

Pengaruh Penambahan Bakteri Asam Laktat yang Dipreparasi dari Ekstrak Rumput Terfermentasi Terhadap Kualitas Silase Rumput Raja dan Benggala BUDI SANTOSA, B.n. HARIADI, H. MANIK dan H. ABUBAKAR

718

Integrasi Usahatani dengan Pemberdayaan Potensi Hidrologi, Petemakan, dan Pola Tanam Berdasarkan Spesifikasi Biofisik Lahannya di Kabupaten Cilacap SURATMAN dan A. THAHAR

725

Introduksi Beberapa Jenis Rumput dan Leguminosa Unggul sebagai Penyedia Hijauan Pakan pada Lahan Kering Dataran Rendah di Kabupaten Pinrang A. NURHAYU, A. SAENAB dan M. SARIUBANG

733

xvii

'-'-~l

Semina,. NfI.,;ional Teknologi Peternakotl IIml Jlelel'iner 200/)

Pertumbuhan Aspergillus niger dalam Proses Biofermentasi pada Beberapa Ukuran Cacahan Kulit Buah Kakao (Theobroma cocoa 1.) F.F. MUNIER

739

Korelasi Berbagai Level Prebiotik Vbi Jalar Kuning (Ipomea batatas L) dan Prebiotik Lactobacillus casei pada Pembuatan Susu Fermentasi Sinbiotik IZAAyuSAUFANI

745

Potensi Ketersediaan Kulit Buah Kakao (Theobroma cocoa 1.) sebagai Sumber

Pakan Aitematifuntuk Temak Ruminansia di Daerah Istimewa Yogyakarta

F.F. MUNIER

752

Persentase Motilitas Sperma Babi Yorkshire dalam Pengencer BTS (Beltsville

Thawing Solution) dan Zorlesco

N.L.G. SUMARDANI, T.L. YUSUF dan P.H. SIAGIAN

760

Potensi Kera1]>lang (Canavalia virosa) sebagai Sumber Pangan dan Pakan Temak Altematif ' ERNA WINARTI, SARJIMAN dan N. CAHYANINGRUM .

765

, Perbandingan Gambaran Terhadap Antibodi Pascavaksinasi Anthrax dengan

Menggunakan 2 Vaksin Produksi dalam Negeri

RAHMAT SETYA ADn ..

770

Efektifitas Anticendawan Terhadap Kapang Pencemar Jagung RiZA ZAINUDDIN AHMAD

.

775

Pengaruh Pemberian Alantoin dengan Pirimetamin - Sulfadoksin Terhadap

Gambaran Leukosit dan Jumlah Takizoit pada Mencit yang Diinfeksi dengan

Toxoplasma gondii TOLIBIN ISKANDAR

781

Vji Daya Hambat Ekstrak Elanol dan Etil Asetat Daun Ketumpang (Tridax

procumbens 1.) Terhadap Trichophyton mentagrophytes

DJAENUDIN GHOLm ..

791

Kasus Kematian Gajah (Elephas maximus Sumatranus) di Riau, Lampung dan Bengkulu (Sumatera) dad Tahun 1996 - 2006 YUNINGSIII .

796

Analisis Finansial Kelayakan Vsaha Penetasan Telur Itik di Kabupaten Blitar

BROTO Wmowo dan E. JUARINI

.

802

Pembuatan Kampos dari Limbah Kandang dengan Sistem Bumbung

SUPRIADI dan MURWATI

..

808

Vji Daya Hambat Ekstrak Elanol Daun Karuk (Piper sarmentosum Roxb.) dan

Daun Seserehan (Piper aduncum 1.) Terhadap Trichophyton mentagrophytes

DJAENUDIN GHOLIB .

815

xviii

Seminar Nasiollal Tekf/ologi Pelernal((J/l dan Veteriner 2009

Metode Analisis Residu Pestisida Lindan dalam Daging Sccara Cepat dan Mudah dengan Khromatografi Gas YUNINGSIH dan S. YULlASTUTl

820

Uji Korelasi Kadar Air Kadar Abn Water Activity dan Bahan Organik pada Jagung di Tingkat Petani, Pedagang Pengnmpul dan Pedagang Besar AGUS SUSANTO

826

PARTISIPAN SEMINAR

837

INDEKS PENULTS............

843

1"

!ij



r'

xix

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009

PROFIL PETERNAK DAN KARAKTERISTIK TERNAK KERBAU RAWA LOKAL YANG JADI PILIHAN PETERNAK DI KABUPATEN SAMOSIR SUMATERA UTARA (Breeder Profiles and Exterior Characteristics of Swamp Buffalo in Samosir, North Sumatera) H.I.M. SITANGGANG, T.W. MURTI dan T. HARTATIK Bagian Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada Jl. Agro Karang Malang Bulaksumur, Yogyakarta

ABSTRACT The purpose of this study is to investigate the appearances of breeder and the characteristics of swamp buffalo bred and chosen by the farmers in Samosir, North Sumatera. The study was undertaken by field survey and direct measurement to collect data. The data were analysed both qualitatively and quantitatively. The qualitative data (skin collour and uniformity of body) were obtained by observation and interview with the breeders. The quantitative data were obtained according to statistical data of swamp buffalo exteriors. The qualitative data were analysed by employing Chi-square method, while the quantitative data were analysed using an One way ANOVA method. Result show that the average age of breeders was between 46 to 56 years old and mostly elementary graduated (47,75%). Daily income is mainly came from farming activity (79,28%). The preferences of farmer for exterior characteristic were oval shape of body, large horns and convex ribs. While skin color, head and ear size, hornshape, back, femine, tail base, tail and udder size and nipple position are not regarded as the preference standard of farmers. Acceptence of farmers for the exterior characteristics was 23,08% but 79,92% of the observed exterior characteristics appeared to be different between the available exterior and the selected exterior characteristics. High deviation between field condition and farmers preference was due to education and knowledge of farmers on exterior characteristics that has not been socialized properly. Key Words: Breeder Profiles, Swamp Buffalo, Exterior Characteristics, Breeder Choised, Samosir North Sumatera ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil peternak serta ciri eksterior ternak kerbau rawa lokal yang dipelihara peternak dan pilihan peternak di kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Penelitian dilakukan dengan cara survey dan pengukuran langsung. Data yang diambil berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif (warna kulit dan kesesuaian bentuk bagian-bagian tubuh kerbau) diperoleh dari hasil pengamatan dan wawancara dengan peternak. Data kuantitatif diperoleh berdasarkan hasil pengukuran data vital statistik ternak kerbau. Kesesuaian data kualitatif ternak yang diperoleh dari pengamatan di lapangan dengan harapan/pilihan peternak dianalisis dengan perhitungan khi-kwadrat dan data kuantitatif dianalisis dengan metode One Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak rata-rata berumur 46 sampai 56 tahun dengan tingkat pendidikan mayoritas SD (47,75%) dan mata pencaharian utama petani (79,28%). Ciri eksterior yang dapat dianggap sama dengan keinginan peternak adalah bentuk badan lonjong, ukuran tanduk besar dan rusuk cembung. Ciri eksterior yang tidak memenuhi keinginan peternak adalah warna kulit, bentuk kepala, panjang telinga, bentuk tanduk, punggung, sifat kebetinaan, pangkal ekor, panjang ekor, ukuran ambing dan letak puting. Persentase ciri eksterior yang memenuhi keinginan peternak adalah 23,08% sementara 76,92% dari ciri eksterior yang diamati menunjukkan adanya perbedaan antara eksterior ternak yang ada dengan eksterior ternak yang dipilih peternak untuk dipelihara. Besarnya penyimpangan antara kondisi nyata di lapangan dan keinginan peternak ini disebabkan faktor pendidikan dan pengetahuan peternak mengenai ciri-ciri ternak yang baik belum tersosialisasikan dengan baik. Kata Kunci: Profil Peternak, Kerbau Rawa, Karakteristik Eksterior, Pilihan Peternak, Samosir Sumatera Utara

333

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009

PENDAHULUAN Sebagian besar penduduk Indonesia hidup di pedesaan dan bermata pencaharian pokok sebagai petani dengan lahan garapan yang relatif sempit, sehingga pendapatannya pun rendah. Pendapatan yang relatif rendah mendorong para petani mulai melirik usahausaha lain yang dapat dijadikan usaha sambilan. Usaha yang paling banyak dilirik petani adalah pemeliharaan ternak khususnya ruminansia besar. Ruminansia besar dipilih karena mendukung produktivitas kegiatan pertanian yakni untuk mengolah tanah (membajak sawah). Ruminansia besar yang paling banyak disoroti adalah ternak sapi (potong dan perah) sedangkan ternak kerbau cenderung terlupakan. Salah satu penyebabnya adalah pertumbuhan kerbau yang lebih lambat dibandingkan dengan sapi. Ternak kerbau dimanfaatkan sebagai ternak dual purpose dan bahkan multi purpose yakni untuk daging, susu dan tenaga kerja. Salah satu wilayah distribusi kerbau terbesar di Indonesia adalah Sumatera Utara. Di Sumatera Utara khususnya di Kabupaten Samosir, ternak kerbau ini memiliki fungsi yang sangat sakral dalam budaya yang dianut oleh masyarakat suku Batak. Dalam budaya Batak ternak kerbau sangat dibutuhkan dalam upacara adat besar sehingga kepemilikan akan ternak ini dapat menaikkan kedudukan status sosial seseorang dalam komunitas. Pada penelitian ini yang disoroti adalah eksterior ternak kerbau yang diinginkan peternak untuk dipelihara di Kabupaten Samosir. Karakteristik eksterior ternak kerbau memiliki peranan penting dalam pemilihan ternak kerbau. Walau bagaimanapun, jika ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu maka yang pertama kita lihat adalah bagian luar yaitu eksteriornya. Demikian halnya dengan ternak kerbau, jika kita ingin mengetahui lebih spesifik ternak kerbau maka yang pertama kita lihat adalah eksteriornya. Hal tersebut didukung oleh pernyataan SOSROAMIDJOJO (1984) yang menyatakan bahwa eksterior merupakan petunjuk atau sarana permulaan untuk menilai seekor ternak yang akan dipilih. Lebih lanjut dikatakan untuk pembuktian perlu adanya penelitian-penelitian dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi ternak yang dinilai. ASORI (2004) juga mengemukakan

334

penentuan prestasi dari suatu ternak harus memperhatikan konsititusi tubuh dengan cara membandingkan bentuk maupun letak bagian tubuh tersebut dengan bagian tubuh lainnya. Karakteristik eksterior ternak kerbau yang disoroti adalah karakteristik eksterior ternak kerbau dari sudut pandang peternak rakyat, dengan kata lain peneliti ingin mengetahui profil kerbau yang jadi pilihan petani rakyat untuk dipelihara atau dikembangkan. Mengapa petani rakyat? Karena kerbau terdistribusi rata di peternak yang kurang berkembang, namun cara penanganannya sudah lebih baik karena langsung teraplikasi dan dialami sendiri oleh petani ternak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil peternak kerbau serta karakteristik eksterior ternak kerbau rawa lokal yang dipelihara peternak dan yang jadi pilihan peternak rakyat di kabupaten Samosir, Sumatera Utara, juga untuk mengetahui apakah pilihan peternak sudah terpenuhi atau sesuai dengan ternak yang dimiliki. MATERI DAN METODE Pada penelitian ini materi yang digunakan adalah 111 ekor ternak kerbau betina lokal umur empat sampai 15 tahun dan peternak sebagai responden untuk mendapatkan data primer. Alat yang akan digunakan adalah kuisioner untuk diisi oleh pemilik ternak, dan alat ukur berupa tongkat ukur dan pita ukur untuk mengukur ukuran vital tubuh ternak. Data dari peternak diperoleh dari hasil wawancara dengan bantuan kuisioner. Kuisioner dibacakan di depan peternak dan ditulis pendapat/pilihan dari peternak. Data ukuran luar tubuh diperoleh dari hasil pengukuran ternak secara langsung. Pada penelitian diperoleh data yaitu data yang diperoleh langsung dari peternak dan juga data hasil pengukuran tubuh ternak. Pada penelitian ini diambil tiga titik yakni tiga kecamatan (Ronggurnihuta, Pangururan dan Simanindo). Pada masing-masing kecamatan diambil tiga desa yang memiliki populasi kerbau. Selanjutnya dari masing-masing desa tersebut diambil sampel/peternak dengan ternaknya (Lokasi I 35 sampel, lokasi II 40 sampel dan lokasi III 36 sampel) sehingga diperoleh 111 buah data.

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009

Bagian luar tubuh (eksterior) yang diukur pada penelitian ini diantaranya; panjang kepala dan lebar kepala untuk mengetahui indeks kepala. Indeks kepala diperoleh dari hasil bagi lebar kepala dengan panjang kepala. Eksterior lain yang diukur adalah panjang dan lebar telinga; tebal dan panjang leher;panjang badan; tinggi gumba; lebar dan tinggi pinggul; lingkar perut; dalam, lebar dan lingkar dada, panjang, lebar, diameter dan tinggi ambing; serta panjang kaki depan dan belakang. Metode pengukuran untuk masing-masing karakter eksterior tersebut adalah: 1. Panjang kepala, diukur mulai bagian atas paling tengah kepala hingga moncong ternak 2. Lebar kepala diukur dari pertengahan panjang kepala bagian kiri hingga bagian kanan 3. Indeks kepala adalah besarnya perbandingan antara lebar dan panjang kepala ternak 4. Panjang Telinga diukur dimulai dari pangkal telinga hingga ujung daun telinga 5. Lebar telinga diukur dari bagian tengah telinga dimulai dari kiri hingga ke kanan 6. Ketebalan leher diukur dari bagian kiri leher hingga ke bagian kanan 7. Panjang leher diukur mulai perbatasan bahu ke leher hingga perbatasan leher ke kepala 8. Panjang badan absolut ialah jarak antara ujung samping tulang bahu sampai ujung tulang duduk ternak (panjang badan relatif ialah proyeksi (garis datar) dari pada panjang badan absolut) 9. Tinggi gumba adalah jarak lurus dari titik tertinggi tulang gumba sampai ke tanah datar 10. Lebar pinggul diukur dari bagian kiri hingga bagian kanan pinggul dengan menggunakan tongkat ukur 11. Tinggi pinggul diukur dengan tongkat ukur dengan meletakkan tongkat ukur secara vertikal mulai dari tanah hingga bagian pinggul paling atas 12. Lingkar perut diukur dengan melingkarkan pita ukur pada bagian perut ternak 13. Kedalaman dada ialah jarak antara titik tertinggi tulang gumba sampai dengan bagian tepi bawah tulang dada 14. Lebar dada ialah jarak antara kedua bagian samping (lateral) kanan-kiri tulang bahu

15. Lingkar dada merupakan panjang melingkar (keliling) yang diukur pada bagian dada tepat di bagian belakang tulang gumba pada tulang rusuk (rib) ke-3 – 4 16. Lebar ambing diukur mulai dari sisi kanan hingga sisi kiri 17. Panjang ambing diukur mulai dari ambing bagian belakang hingga bagian depan 18. Tinggi ambing diukur dengan menggunakan mistar ukur kecil, dimulai dari bagian bawah (tempat puting menempel) hingga bagian perlekatan ambing dengan perut 19. Diameter ambing diukur dengan melilitkan pita ukur pada bagian ambing 20. Panjang vena mamaria diukur dengan menggunakan pita ukur mulai ujung bagian belakang (yang melekat pada ambing) hingga ujung bagian depan (dekat dada) 21. Panjang kaki (depan dan belakang) diukur mulai dari pangkal paha hingga bagian yang menyentuh tanah (teracak) ANALISIS DATA Data kualitatif yang diperoleh dari pelaksanaan penelitian ini berupa pengamatan ciri eksterior kerbau berupa ciri umum dan juga ciri khusus diolah dengan menggunakan perhitungan khi-kwadrat. Data kuantitatif (hasil pengukuran) diproses dengan menggunakan program SPSS dengan metode analisis One Way Anova untuk mengetahui rata-rata dan standar deviasinya serta untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata antar lokasi yang diamati. HASIL DAN PEMBAHASAN Data responden Penelitian yang berjudul Karakteristik Eksterior Ternak Kerbau Rawa Lokal Yang Jadi Pilihan Peternak di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara ini memiliki 111 orang responden. Menurut WATTS (1989), jika responden merupakan responden tidak terlatih dari beragam kepentingan yang sangat berbeda satu sama lain, maka dibutuhkan 100 sampai 500 orang.

335

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009

Tabel 1. Kisaran dan rata-rata umur peternak (responden) dan lama beternak Kecamatan

Umur responden

(tahun)

Lama beternak

(tahun)

Kisaran

Rata-rata

Kisaran

Rata-rata

Ronggurnihuta

26-71

46,20

2-51

14,37

Pangururan

37-71

54,10

5-45

20,40

Simanindo

36,76

56,58

6-52

24,75

Berdasarkan data yang diperoleh diketahui responden hampir selama hidupnya melakukan aktivitas beternak. Responden yang diwawancarai tidak pernah mendapat atau mengikuti kursus beternak, jadi para responden memiliki pandangan dan cara beternak berdasarkan pengalaman sesama peternak saja. Tujuan pemeliharaan ternak di kabupaten Samosir selain untuk status sosial, juga sebagai penghasil pupuk, tenaga kerja, tabungan, daging dan sebagai hobby. Cara pemeliharaannya adalah ternak pada pagi hari diantarkan ke padang penggembalaan dan dibiarkan hingga sore hari. Kondisi ini menyebabkan pakan yang dikonsumsi ternak hanyalah rumput lapangan dan rumput liar yang berkualitas rendah. Mata pencaharian utama responden, yang terbanyak adalah petani yakni sebesar 79,28%. Mata pencaharian lainnya adalah PNS (9,91%), wiraswasta (6,31%), lain-lain (2,70%), buruh dan pedagang (1,80%). Dari hasil wawancara diperoleh data pendidikan terakhir peternak yang terbanyak adalah sekolah dasar (SD) yakni 47,75% kemudian diikuti oleh SMP, SMA, tidak pernah sekolah dan Perguruan tinggi. Data kualitatif eksterior ternak Kerbau atau Bubalus bubalis adalah salah satu ternak yang potensinya belum banyak diketahui (HARDJOSUBROTO, 1994). Lebih jauh dijelaskan oleh WILLIAMSON-PAYNE (1993) ternak kerbau adalah binatang bertulang besar, agak kompak dengan badan tergantung rendah pada kaki-kaki yang kuat dengan kuku-kuku yang besar, tidak bergelambir atau punuk, bertanduk. ANONIMUS (2008) mengatakan, kerbau lumpur kulitnya berwarna hitam keabu-abuan,

336

tanduk panjang dan besar. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa kondisi ternak yang ada di kabupaten Samosir adalah warna kulit abu-abu, bentuk badan persegi panjang, bentuk kepala lonjong, ukuran telinga sedang, ukuran tanduk besar dan bulat seperti bulan sabit, punggung lurus dan kuat, rusuk cembung, sifat kebetinaan kasar dan mudah terpengaruh, ekor panjang dengan pangkal sejajar garis punggung, ukuran ambing kecil dan letak puting tidak seimbang. Karakteristik kerbau rawa di Kalimantan Selatan adalah badan persegi panjang, warna bulu coklat, kepala besar, daun telinga ada yang runcing dan ada yang tumpul pada bagian ujung, bentuk telinga ke samping mengarah ke atas, tanduk ada empat macam yakni kesamping naik ke atas; ke samping naik ke atas dan melengkung; ke samping melengkung ke belakang dan ke samping yang naik satu ke atas dan satu turun bawah/tidak simetris (semakin tua tanduk semakin panjang), teracak melebar keluar dan bagian atas (seperti jempol) bagian depan lebih panjang dan besar dari bagian belakang, pangkal ekor seperti cembung dan dalam keadaan bunting tua berubah menjadi sangat cekung, punggung ditumbuhi bulu yang lebat dan mengarahkan ke depan (ada tiga kriteria yakni gemuk : lurus, sedang: lurus tetapi melengkung di bagian depan, kurus: lurus tetapi di bagian depan dan belakang melengkung) serta ambing berwarna putih kemerahmudaan, tidak terlalu besar, letak di belakang dan simetris ukuran puting relatif panjang. Dan ukuran teracak lebar dan besar warna kehitaman (DINAS PERTANIAN KALIMANTAN SELATAN, 2007). Ciri-ciri eksterior ternak yang dipilih peternak diketahui dari hasil wawancara. Eksterior yang dipilih peternak adalah warna kulit putih (63%) diikuti warna abu-abu (34%), bentuk badan persegi panjang, (100%), bentuk kepala lonjong (100%), telinga panjang

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009

(90,09%), ukuran tanduk besar (76,58%) dengan bentuk pipih melengkung ke atas (59,46%), punggung melengkung (84,68%), rusuk cembung (100%), sifat kebetinaan feminim, jinak dan tidak mudah terpengaruh (100%), ekor panjang (100%) dengan pangkal sejajar garis punggung (100%), ambing besar (74,77%), dan letak puting tidak seimbang (82,88%). Data kualitatif ternak dianalisis dengan perhitungan khi-kwadrat dan diperoleh kenyataan bahwa dari kondisi yang eksterior ternak yang ada hanya 23,08% yang memenuhi keinginan peternak sementara 76,92% dari ciri eksterior yang diamati menunjukkan adanya perbedaan anatara eketerior ternak yang ada dengan eksterior ternak yang dipilih peternak untuk dipelihara. Ciri eksterior yang dapat dianggap sama dengan keinginan peternak adalah bentuk badan lonjong, ukuran tanduk besar dan rusuk cembung. Ciri eksterior yang tidak memenuhi keinginan peternak adalah warna kulit, bentuk kepala, panjang telinga, bentuk tanduk, punggung, sifat kebetinaan, pangkal ekor, panjang ekor, ukuran ambing dan letak puting. Kondisi tersebut di atas belum tentu menunjukkan bahwa ternak kerbau di kabupaten Samosir tidak berproduksi baik tetapi besarnya persentase tersebut dikatakan sebagai indikasi kurangnya pengetahuan peternak dalam memilih performa ternak berproduksi baik. Hal ini didukung oleh tingkat pendidikan peternak yang kebanyakan adalah sekolah dasar (SD). Data lain yang mendukung adalah tidak adanya diantara peternak yang pernah mengikuti kursus beternak. Berkaitan dengan fungsinya sebagai ternak sosial, ciri eksterior yang paling diamati dalam memilih ternak yang digunakan untuk acara adat adalah kepala lonjong, telinga panjang, tanduk besar, ekor panjang dan teracak tebal. Data ukuran vital tubuh ternak Ternak yang diukur eksteriornya adalah ternak yang dimiliki oleh responden. Umur ternak yang diukur antara 4 sampai 15 tahun. Menurut peternak walaupun ternak sudah berumur di atas 10 tahun namun masih dapat berproduksi sehingga terus dipelihara hingga

tidak berproduksi lagi. Pada Tabel 2 ditunjukkan rata-rata dan standar deviasi ukuran vital yang diperoleh serta berbeda tidaknya rata-rata di ketiga lokasi yang diamati. Indeks kepala diperoleh dari hasil bagi ukuran lebar kepala dengan panjang kepala. Data vital lainnya diperoleh dari hasil pengukuran ternak secara langsung. Data diproses metode One Way Anova. MURTI (2004) mengatakan panjang badan, tinggi gumba dan lingkar dada kerbau rawa masing-masing adalah 121 sampai 157 cm, 120 sampai 137 cm dan 180 sampai 209 cm. Berdasarkan hasil pada tabel di atas ukuran panjang badan yang masih berada pada kisaran adalah rata-rata panjang badan di Lokasi III (Kecamatan Simanindo). Rata-rata tinggi gumba di ketiga Lokasi penelitian berada di bawah kisaran. Rata-rata lingkar dada pada Lokasi I (kecamatan Ronggurnihuta) masih berada dalam kisaran sedangkan Lokasi II (kecamatan Pangururan) dan Lokasi III (kecamatan Simanindo) berada di bawah kisaran. Rata-rata yang berada dibawah kisaran dianggap sebagai indikasi kurangnya pemeliharaan secara intensif terhadap ternak kerbau. Menurut ANONIMUS (2008) panjang badan kerbau lumpur rata-rata 130 cm dan lingkar dada 190 cm. Dari tabel diketahui rata-rata panjang badan dan lingkar dada di ketiga Lokasi berada di bawah kisaran yakni Lokasi I 118,17 cm dan 187,97 cm; Lokasi II 120,80 cm dan 172,98 cm; serta Lokasi III 126,31 cm dan 167,56 cm. Rata-rata data ukuran vital dengan angka terbesar di kecamatan Ronggurnihuta (lokasi I) adalah tinggi gumba, lebar pinggul, tinggi pinggul, dalam dada, lebar dada, lingkar dada, lebar ambing, diameter ambing dan panjang vena mamaria. Rata-rata data ukuran vital dengan angka terbesar di kecamatan Pangururan (lokasi II) adalah lebar telinga, lingkar perut, panjang ambing, panjang kaki depan dan panjang kaki belakang. Rata-rata data ukuran vital dengan angka terbesar di kecamatan Simanindo (lokasi III) adalah indeks kepala, panjang telinga, tebal leher, panjang leher, panjang badan dan tinggi ambing. Rata-rata ukuran dengan angka terbesar menunjukkan produksi yang lebih baik.

337

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009

Tabel 2. Rata-rata dan standar deviasi eksterior ternak yang diukur X±SD

Data vital Ronggurnihuta

Pangururan

Simanindo

Indeks kepala

0,45 ± 0,07a

0,54 ± 0,04b

0,54 ± 0,05b

Panjang telinga (cm)

19,63 ± 4,26a

26,03 ± 4,81b

28,47 ± 4,64b

a

b

13,50 ± 1,75a

Lebar telinga (cm)

13,26 ± 3,00

15,53 ± 2,26

Tebal leher (cm)

19,40 ± 5,49a

18,90 ± 2,85a

22,81 ± 3,49b

Panjang leher (cm)

83,60 ± 8,53a

90,23 ± 5,72b

90,97 ± 5,59b

Panjang badan (cm)

118,17 ± 12.,59

Tinggi gumba (cm)

118,31 ± 4,89b

a

b

a

126,31 ± 3,49b

114,45 ± 3,20a

113,00 ± 3,74a

120,80 ± 9,24

a

48,94 ± 5,49a

Lebar pinggul (cm)

56,11 ± 6,90

47,03 ± 3,81

Tinggi pinggul (cm)

129,69 ± 4,14b

124,50 ± 3,24a

122,97 ± 3,66a

Lingkar perut (cm)

233,08 ± 12,18a

233,28 ± 8,47a

229,72 ± 9,04a

b

Dalam dada (cm)

69,20 ± 4,76

Lebar dada (cm)

39,29 ± 3,49b b

60,90 ± 4,26

a

59,89 ± 3,85a

36,53 ± 3,15a

37,64 ± 3,08a a

167,56 ± 8,11a

Lingkar dada (cm)

187,97 ± 8,63

172,98 ± 20,18

Panjang ambing (cm)

24,97 ± 2,82a

25,20 ± 2,99a

24,83 ± 3,23a

Lebar ambing (cm)

17,86 ± 4,53b

15,50 ± 3,58a

13,64 ± 3,15a

b

b

18,78 ± 3,29a

Diameter ambing (cm)

23,91 ± 3,71

Tinggi ambing (cm)

5,46 ± 1,52a

22,05 ± 4,01

6,03 ± 1,07a

a

6,28 ± 2,73a

b

54,00 ± 6,27c

Panjang vena mamaria (cm)

66,49 ± 3,63

59,48 ± 8,17

Panjang kaki depan (cm)

95,40 ± 3,84a

102,48 ± 3,57b

99,03 ± 2,99c

Panjang kaki belakang (cm)

85,71 ± 4,68a

88,80 ± 3,14b

87,31 ± 2,79ab

a.b.c

superskrip yang beda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (< 0,05)

KESIMPULAN Responden penelitian merupakan responden tidak terlatih dan dari beragam kepentingan yang berbeda satu sama lain. Umur responden adalah antara 26 sampai 76 tahun dan hampir selama hidupnya telah melakukan aktivitas beternak, namun belum pernah mengikuti kursus beternak. Pendidikan terkahir responden terbanyak adalah sekolah dasar (SD) dan mata pencaharian sebagai petani. Ternak dipelihara secara tradisional dengan tujuan untuk tenaga kerja, penghasil pupuk dan ternak sosial. Ciri eksterior kerbau di kabupaten Samosir ialah warna kulit abu-abu, bentuk badan persegi panjang, bentuk kepala lonjong, ukuran telinga sedang, ukuran tanduk besar dan bulat seperti bulan sabit, punggung lurus dan kuat,

338

rusuk cembung, sifat kebetinaan kasar dan mudah terpengaruh, ekor panjang dengan pangkal sejajar garis punggung, ukuran ambing kecil dan letak puting tidak seimbang. Ciri eksterior yang dapat dianggap sama dengan keinginan peternak adalah bentuk badan lonjong, ukuran tanduk besar dan rusuk cembung. Persentase ciri eksterior yang memenuhi keinginan peternak adalah 23,08% sementara 76,92% dari ciri eksterior yang diamati menunjukkan adanya perbedaan antara eksterior ternak yang ada dengan eksterior ternak yang dipilih peternak. Besarnya penyimpangan antara kondisi nyata di lapangan dan keinginan peternak ini disebabkan faktor pendidikan dan pengetahuan peternak mengenai ciri-ciri ternak yang baik belum tersosialisasikan dengan baik.

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009

DAFTAR PUSTAKA

HARDJOSUBROTO, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Grasindo, Jakarta.

ANONIMUS. 2008. Kerbau Belang. Available at http://bk.menlh.go.id/?module=florafauna&op t=faunaktkab&id=28&PHPSESSID=dc05690 457716215bdcead68abf628f9. (1 Maret 2009).

MURTI, T.W. 2007. Beternak Kerbau. Cetak Aji Parama, Klaten.

ASORI. 2004. Tinjauan Eksterior Ternak Kerbau yang Disenangi Peternak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi. Sarjana Peternakan. Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. DINAS PERTANIAN PROPINSI KALIMANTAN SELATAN. 2007. Inventarisasi dan Karakteristik Kerbau Rawa sebagai Ternak Plasma Nutfah di Kalimantan Selatan. Available at http://kalsel. litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_c ontent&task=view&id=23&Itemid=1. (3 March 2009).

SOSROAMIDJOJO, S dan SOERADJI. 1984. Peternakan Umum. Yasaguna, Jakarta. WATTS, B.M., G.L. YLIMAKI, L.E. JEFFERY dan L.G. ELIAS. 1989. Basic Sensory Methods For Food Evaluation. IDRC, Ontari-Canada. WILLIAMSON, G. dan W.J.A. PAYNE. 1993. Pengantar Peternakan Di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press., Yogyakarta.

DISKUSI Pertanyaan: Menurut penulis eskterior dan sifat kuantitaif kerbau sudah baik, tetapi menurut peternak masih jelek. Bagaimana pengembangannya? Jawab: Peternak senang kerbau dengan tampilan unik, sehingga perlu sosialisasi pengembangan kerbau yang baik bukan unik.

339