BAB III doc - library.walisongo.ac.id

-Lentera Hati : Kisah dan Hikmah Kehidupan (Bandung: Mizan, 1998) -Wawasan al-Qur'an : Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1...

1 downloads 417 Views 108KB Size
BAB III QURAISH SHIHAB DAN PEMIKIRANNYA TENTANG JILBAB

3.1. Biografi Quraish Shihab Muhammad Quraish Shihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada 16 Februari 1944. setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujungpandang, dia melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang, sambil “nyantri” di Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah. Pada tahun 1958, dia berangkat di Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyah al-Azhar. Pada 1967 dia meraih gelar Lc (S-1) pada fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadits Universitas al-Azhar. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya di Fakultas yang sama, dan pada tahun 1969 meraih gelar MA. untuk spesialisasi bidang Tafsir al-Qur'an dengan tesis berjudul “al-Ijaz al-Tasyri’iy al-Qur'an al-Karim”. Sekembalinya ke Ujungpandang, Quraish Shihab dipercayakan untuk menjabat wakil rektor bidang akademis dan kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujungpandang. Selain itu, dia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam kampus seperti Koordinator perguruan tinggi swasta (Wilayah VII Indonesia bagian Timur), maupun di luar kampus seperti pembantu pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujungpandang ini, dia juga sempat melakukan berbagai penelitian, antara lain : Penelitian dengan tema “Penerapan Kerukunan

Hidup Beragama di Indonesia Timur” (1975) dan “Masalah wakaf Sulawesi Selatan” (1978). Pada tahun 1980, Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikannya di almamaternya yang lama, Universitas alAzhar. Pada tahun 1982, dengan disertasi berjudul “Nazhm al-Durar li alBiqa’iy, Tahqiq wa Dirasah”, dia telah berhasil meraih gelar doktor dalam ilu-ilmu al-Qur'an dengan yudisium Summa Cumlaude disertai penghargaan tingkat I (Mumtaz ma’a Martabat al-Syaraf al-U’la). Sekembalinya ke Indonesia sejak 1984, Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, di luar kampus, dia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan, antara lain : Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984), anggota Lajnah Pentashih Al-Qur'an Departemen Agama (sejak 1989), Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989), dan ketua Lembaga Pengembangan. Dia juga banyak terlihat dalam beberapa organisasi profesional, antara lain : Pengurus perhimpunan ilmuilmyu syari'ah, pengurus konsorsium ilmu-ilmu agama Departemen Pendidikan Agama dan Kebudayaan, dan asisten ketua umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Di sela-sela segala kesibukannya itu, dia juga terlibat dalam berbagai kegiatan ilmiah di dalam maupun luar negeri. Yang tidak kalah pentingnya, Quraish Shihab juga aktif dalam kegiatan tulis menulis. Di surat kabar Pelita, pada setiap hari Rabu dia

menulis dalam rubrik “Pelita Hati”. Dia juga mengasuh rubrik “Tafsir alAmanah” dalam majalah dua mingguan yang terbit di Jakarta, Amanah. Selain itu, dia juga tercatat sebagai anggota dewan redaksi majalah Ulumul Qur’an dan mimbar ulama, keduanya terbit di Jakarta. Selain kontribusinya untuk berbagai buku suntingan dan jurnal-jurnal ilmiah, hingga kini sudah tiga buku yang diterbitkan, yaitu : Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujungpandang : IAIN Alauddin, 1984), Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Departemen Agama, 1987), dan Mahkota Tuntunan Ilahi, (Tafsir Surat al-Fatihah) Jakarta : Untagma, 1988).

3.2. Karya-Karya Quraish Shihab Karya-karyanya yang sudah dipublikasikan, antara lain : -

Tafsir al-Manar : Keistimewaan dan Kelemahannya, (Ujungpandang: IAIN Alauddin, 1984)

-

Membumikan al-Qur'an : Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung : Mizan, 1994)

-

Lentera Hati : Kisah dan Hikmah Kehidupan (Bandung: Mizan, 1998)

-

Wawasan al-Qur'an : Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996)

-

Untaian Permata Buat anakku (Bandung: Mizan, 1998)

-

Menyingkap Tabir Ilahi (Jakarta: :Lentera Hati, 1998)

-

Haji Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan, 1999)

-

Sahur Bersama Quraish Shihab (Bandung: Mizan, 1999)

-

Shalat Bersama Quraish Shihab (Jakarta: Abdi Bangsa)

-

Puasa Bersama Quraish Shihab (Jakarta: Abdi Bangsa)

-

Fatwa-fatwa (Bandung: Mizan, 1999, 4 jilid

-

Hidangan Ilahi : Tafsir Ayat-ayat Tahlil (Jakarta: Lentera Hati, 1999)

-

Perjalanan Menuju Keabadian : Kematian, surga, dan Ayat-ayat Tahlil (Jakarta: Lentera Hati, 2000)

-

Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2003),, 15 jilid

-

Jilbab Pakaian Muslimah, Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer, (Jakarta: Lentera Hati, 2004)

-

Dia di Mana-mana : Tangan Tuhan di balik setiap fenomena (Jakarta: Lentera Hati, 2004)

-

Perempuan (Jakarta: Lentera Hati, 2005)

-

Logika Agama : Kedudukan Wahyu dan Batas-batas Akal dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2005)

3.3. Pemikiran Quraish Shihab Tentang Jilbab Pemikiran Quraish Shihab berkaitan dengan jilbab dalam hal ini menfokuskan tentang pakaian dan batas aurat. Hal-hal tersebut merupakan masalah penting dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menurut Quraish Shihab apabila hal-hal ini dapat dipahami dan dilaksanakan oleh kalangan muslimat maka bukan hal yang mustahil bagi setiap muslimat untuk mencapai sesuai apa yang diperintahkan oleh agama Islam. Berikut uraian pemikiran Quraish Shihab tentang jilbab:

3.3.1. Pakaian Sandang atau pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, karena pakaian dapat memberikan dampak psikologis bagi pemakainya. Di samping itu pakaian juga dapat memberikan dampak psikologis lagi yang melihatnya (Shihab, 2004: 29-31). Dalam al-Qur’an istilah untuk pakaian sering disebut dengan libas, tsiyab, dan sarabil. Kata libas digunakan oleh al-Qur’an untuk menunjukkan pakaian lahir maupun batin, sedang kata tsiyab digunakan untuk menunjukkan pakaian lahir. Kata ii terambil dari kata tsaub, atau pada keadaan yang seharusnya sesuai dengan ide pertamanya (Shihab, 1996: 155). Ar-Raghib

al-Isfaham

seorang

pakar

bahasa

al-Qur’an,

sebagaimana dikutip oleh Shihab (1996:156) menyatakan bahwa pakaian dinamakan tsiyab atau staub, karena ide dasar adanya bahan-bahan pakaian adalah agar dipakai. Jika bahan-bahan tersebut setelah dipintal kemudian menjadi pakaian, maka pada hakekatnya ia telah kembali pada ide dasar keberadaannya. Hal ini sesuai dengan ide dasar manusia yang dapat dikembalikan pada apa yang terdapat dalam benak manusia pertama kali tentang dirinya. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa ide dasar yang terdapat dalam diri manusia adalah “tertutupnya aurat”. Memakai pakaian tertutup bukanlah monopoli masyarakat arab, dan bukan pula dari budaya mereka, namun berpakaian tertutup merupakan suatu bentuk ibadah, bila didasari dengan niat untuk menutup aurat. Hal ini karena bagi seorang muslim menutup aurat adalah

merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan (Kauma dan Fuad, 2001: 262). Menurut Murthadha Muthahari sebagaimana dikutip oleh Shihab (2004:33) memakai pakaian penutup seluruh badan telah dikenal dikalangan banyak bangsa-bangsa kuno dan lebih melekat pada orangorang Sassan Iran, pakaian penutup muncul di pentas bumi ini sebelum jauh datangnya Islam. Sementara Hasan (2000:101-102) menyebut beberapa alasan yang mengakibatkan adanya keharusan bagi wanita untuk memakai pakaian tertutup alasan pertama antara lain adalah alasan filosofis yang berpusat pada kecenderungan ke arah kerahiban dan perjuangan melawan kenikmatan dalam rangka melawan nafsu manusiawi, namun yang pasti ditetapkan oleh agama Islam bentuk pakaian tertutup, baik tertutup secara keseluruhan maupun sebagian. Alasan yang kedua memakai pakaian tertutup adalah demi keamanan. Alasan ketiga penyebab lahirnya pakaian tertutup adalah karena untuk menghalangi wanita keluar rumah adalah alasan ekonomi. Alasan-alasan atau pandangan mengenai pakaian tertutup seluruh tubuh itu semua sebelum Islam datang, namun setelah al-Qur’an dan sunnah berbicara tentang pakaian dan memberi tuntunan menyangkut caracara memakainya. Ada sebuah kesamaan justru menjadi sebuah kewajiban agar menutup aurat, karena memakai pakaian

itu dapat membuat

ketenangan batin dan itu juga dikehendaki oleh agama (Shihab, 2004:39).

Adapun menyangkut fungsi-fungsi pakaian, bahkan fungsi-fungsi itu disebutkan secara tegas dalam sekian banyak ayat-ayat al-Qur’an.

‫ﻭﺭﹺﻳﺸﹰﺎ‬ ‫ﻢ‬ ‫ﺗ ﹸﻜ‬‫ﻮﺀَﺍ‬ ‫ﺳ‬ ‫ﺍﺭﹺﻱ‬‫ﻳﻮ‬ ‫ﺎﺳﹰﺎ‬‫ﻟﺒ‬ ‫ﻢ‬ ‫ﻴ ﹸﻜ‬‫ﻋﹶﻠ‬ ‫ﺎ‬‫ﺰﹾﻟﻨ‬ ‫ﺪ ﺃﹶﻧ‬ ‫ﻡ ﹶﻗ‬ ‫ﺩ‬ ‫ﺑﻨﹺﻲ ﺁ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳ‬ Artinya: “Wahai putra-putra Adam Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian yang berfungsi menutup aurat kamu dan bulu (sebagai pakaian indah untuk perhiasan)” Ayat ini mengisyaratkan dua fungsi pakaian yaitu menutup aurat dan sebagai hiasan bagi pemakainya. Sedangkan dalam ayat lain fungsi pakaian sebagaimana dalam surat an-Nahl: 81 adalah untuk memelihara manusia dari sengatan panas dan dingin serta membentengi manusia dari hal-hal yang dapat mengganggu ketentraman. Sedang dalam surat alAhzab: 59 menerangkan bahwa fungsi pakaian adalah sebagai pembeda antara seseorang dengan selainnya dalam sifat atau profesinya (Shihab, 2004: 40-41). Menurut Shihab (2004:41) Agama Islam menghendaki agar setiap pemeluknya berpakaian sesuai dengan fungsi-fungsi tersebut atau paling sedikit fungsinya yang terpenting yaitu menutup aurat. ini, karena menampakkan serta bagi yang melihatnya. Dari sekian banyak ayat al-Qur'an yang berbicara tentang pakaian dapat ditemukan paling tidak ada 4 fungsi pakaian yaitu : 1. Penutup sau-at (aurat) Sau-at terambil dari kata sa-a yasa-u yang berarti buruk, tidak menyenangkan, kata ini sama maknanya dengan aurat, yang terambil

dari kata ar yang berarti onar, aib, tercela, keburukan yang dimaksud tidak harus dalam arti sesuatu yang pada dirinya buruk, tetapi bisa juga karena adanya faktor lain yang mengakibatkannya buruk. Tidak satu pun dari bagian tubuh yang buruk karena semuanya baik dan bermanfaat termasuk aurat, tetapi bila dilihat orang, maka keterlihatan itulah yang buruk. 2. Sebagai Perhiasan Perhiasan adalah sesuatu yang dipakai untuk memperelok. Tentunya pemakainya sendiri harus lebih dahulu menganggap bahwa perhiasan tersebut indah, kendati orang lain tidak menilai indah atau pada hakekatnya memang tidak indah. 3. Sebagai Perlindungan (Takwa) Bahwa pakaian tebal dapat melindungi seseorang dari sengatan dingin, dan pakaian yang tipis dari sengatan panas, bukanlah hal yang perlu dibuktikan, yang demikian ini adalah perlindungan secara fisik. Di sisi lain, pakaian memberi pengaruh psikologis bagi pemakainya. 4. Sebagai penunjuk/identitas Identitas/kepribadian eksistensinya

sesuatu

sekaligus

adalah

yang

membedakannya

dari

menggambarkan yang

lain.

Eksistensi/keberadaan seseorang ada yang bersifat material dan ada juga yang immaterial (rohani). Hal-hal yang bersifat material antara lain tergambar dalam pakaian yang dikenakannya.

Dari uraian diatas telah jelas mengenai penekanan pada fungsi pakaian, namun hal ini menjadikan sementara umat Islam menomerduakan atau bahkan mengabaikan unsur keindahan dan pembeda tersebut, padahal menjadi sangat ideal dan indah apabila kesemuaan fungsi yang disebut diatas dapat diperankan. Beberapa Ketentuan Dalam Berpakaian Di atas telah penulis paparkan pandangan beberapa ulama dan cendiki awan menyangkut aurat wanita. Apupun yang anda pilih, wahai anak dan saudara perempuanku, yang ketat sehingga menutup semua badan serta tidak menampakkan kecuali pakaian luar yang tidak mengundang perhatian, atau hanya menampakkan wajah dan telapak tangan, atau menampakkan lebih dari itu secara terhormat, tidak mengundang rangsangan dan usilan apapun yang anda pilih, namun yang pasti ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan agar pakaian dan tingkah laku anda tidak di nilai bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. 1. Jangan bertabarruj. Anda masih ingat firman Allah yang ditujukan kepada perempuan-perempuan yang telah memasuki usia senja dan tidak berminat lagi untuk kawin. Kepada mereka pun, Allah mengingatkan hendaknya mereka jangan sampai menampakkan perhiasan dalam pengertiannya yang umum, yang biasanya tidak ditampakkan oleh wanita baik-baik, atau memakai sesuatu yang tidak wajar dipakai.

Seperti ber-make up secara berlebihan, berbicara secara tidak sopan atau berjalan dengan berlenggak-lenggok dan segala macam sikap yang mengundang perhatian pria. Menampakkan sesuatu yang biasanya tidak ditampakkan kecuali kepada suami, dapat mengandung decak kagum pria lain yang pada gilirannya dapat menimbulkan rangsangan/mengakibatkan gangguan dari yang usil. Jangan berkata bahwa hanya sedikit yang terlihat atau diperlihatkan, karena sering kali menampakkan yang sedikit justru menimbulkan rangsangan yang lebih besar daripada menampakkan yang banyak. 2. Jangan mengundang perhatian pria Segala bentuk pakaian gerak-gerik, ucapan serta aroma yang bertujuan atau dapat mengundang fitnah (rangsangan birahi) serta perhatian berlebihan adalah terlarang. Yang dimaksud disini adalah bila tujuan memakainya mengundang, perhatian dan bertujuan memperoleh popularitas. Adapun jika yang bersangkutan memakainya bukan dengan tujuan itu, lalu kemudian melahirkan popularitas akibat pakaiannya, semoga niatnya untuk tidak melanggar dapat mentoleransi popularitas yang lahir itu. Pemakai jilbab dengan cara dan model jilbab yang dipakai dapat dicakup oleh ancaman di atas, jika niat dan tujuan memilih mode atau cara memakainya mengundang perhatian dan popularitas. Di sisi lain, perlu dicatat bahwa peringatan di atas bukan berarti seseorang dilarang memakai pakaian yang bersih dan indah. Seorang sahabat

Nabi SAW bertanya bahwa, “Bila ada seseorang yang senang pakaiannya indah, alas kakinya indah, apakah itu termasuk kesombongan ?” Nabi SAW menjawab, “ sesungguhnya Allah Maha Indah (dan) menyenangi keindahan. Keangkuhan adalah menolak yang haq dan melecehkan manusia” (HR. At-Tirmidzi) antara lain melali pakaian yang dipakainya. Itu semua, selama tidak disertai dengan raa angkuh, berlebihan, atau melanggar norma agama. 3. Jangan memakai pakaian transparan. Jangan memakai pakaian transparan, sehingga menampakkan kulit anda, tidak juga pakaian sangat ketat sehingga menampakkan lekuk-lekuk badan anda. Pakaian yang transparan dan ketat, pasti akan mengundang bukan saja perhatian, tetapi bahkan rangsangan. Berbusana tapi telanjang, dapat dipahami sebagai memakai pakaian tembus pandang, atau memakai pakaian yang demikian ketat, sehingga nampak dengan jelas lekuk-lekuk badannya. Sedang berlenggak-lenggok dan melenggak-lenggokkan dalam arti gerakgeriknya berlenggak-lenggok antara lain dengan menari atau dalam arti jiwanya miring tidak lurus atau dan memiringkan pula hati atau melenggak-lenggokkan pula badan orang lain. Adapun yang dimaksud dengan punuk unta adalah sanggul-sanggul mereka yang disebut sedemikian rupa sehingga menonjol ke atas bagaikan punuk unta. Ada sementara orang yang memakai pakaian mini lalu menutupi kepalanya dengan topi, lehernya dengan syal (kain pembebat

leher) dan betis serta pahanya dengan stoking (kaus kaki) yang serupa dengan kulit betisnya. Pakaian semacam ini pada hakekatnya tidaklah sejalan dengan norma-norma agama, walaupun semua badannya telah ditutup. 4. Jangan memakai pakaian yang menyerupai pakaian laki-laki. Perlu dicatat bahwa peranan adat kebiasaan dan niat disini, sangat menentukan. Ini, karena boleh jadi ada model pakaian yang dalam satu masyarakat dinilai sebagai pakaian pria sedang dalam masyarakat lain ia menyerupai pakaian wanita. Seperti halnya model pakaian jallabiyah di Mesir dan Saudi Arabia yang digunakan oleh pria dan wanita, sedang model pakaian itu mirip dengan long dress yang dipakai wanita di bagian dunia yang lain. Bisa jadi juga satu model pakaian tadinya dinilai sebagai menyerupai pakaian lelaki, lalu, karena perkembangan massa, ia menjadi pakaian perempuan. Nah, ketika itu yang memakainya tidak disentuh oleh ancaman ini, lebih-lebih jika tujuan pemakaiannya bukan untuk meniru lawan jenisnya. 3.3.2. Batas Aurat Bagian-bagian badan yang tidak boleh terlihat, bisa dinamai aurat, kata ini terambil dari bahasa arab ‫‘( ﻋﻮرة‬aurah) yang oleh sementara ulama dinyatakan terambil dari kata ‫ﻋﻮر‬

(‘awara) yang berarti hilang

perasaan. Jika kata tersebut dikaitkan dengan mata, maka berarti hilang potensi pandangannya (buta) tetapi biasanya ini hanya digunakan bagi yang buta sebelah. Sedangkan bila kata itu digandengkan dengan kalimat

maka ini berarti ucapan yang buruk dan mengundang amarah pendengarannya. Dari makna-makna di atas kata aurat dipahami dalam arti sesuatu yang buruk, atau sesuatu yang hendak diawasi karena ia kosing, atau rawan dan dapat menimbulkan bahaya dan rasa malu (Shihab, 2004: 43). Aurat menurut ash Shiddieqy (2001:24) adalah bagian anggota yang tak layak dilihat orang, atau tak layak terlihat dan nampak kepada orang lain. Kata aurat seringkali dipersamakan dengna sau’ah yang secara harfiah dapat diartikan sesuatu yang buruk. Akan tetapi dari sekian banyak penggunaannya diatas, dapat disimpulkan tidak semua yang buruk adalah aurat. tubuh wanita cantik yang harus ditutup bukanlah sesuatu yang buruk, itu hanya buruk dan dapat berdampak buruk jika dipandang bukan muhramnya. Itu adalah aurat dalam arti rawan, karena dapat menimbulkan rangsangan birahi yang pada gilirannya jika dilihat oleh orang yang tidak berhak melihatnya dapat menimbulkan “kecelakaan, aib dan malu”. Dengan demikian bahasa tentang aurat, dalam ajaran Islam, adalah bahasa tentang bagian tubuh atau sikap dan kelakuan yang rawan, mengundang kedurhakaan serta bahaya (Shihab, 2004: 44). Dalam pandangan pakar hukum Islam aurat adalah bagian dari tubuh manusia yang pada prinsipnya tidak boleh kelihatan, kecuali dalam keadaan darurat atau kebutuhan yang mendesak. Penentuan tentang aurat, sama sekali bukanlah untuk menurunkan derajat kaum wanita, bahkan justru sebaliknya ingin mengangkat derajat

kaum wanita. Maka dalam hal ini perlu adanya penetapan batas-batas aurat bagi wanita, untuk menghalangi perempuan ikut berpartisipasi dalam aneka kegiatan kemasyarakatan, karena apa yang diperintahkan oleh Islam untuk ditutupi, sama seklai tidak menghalangi aktivitas mereka. Itu sebabnya, sekian banyak ulama masa lampau yang menjadikan pertimbangan masyaqqah (kesulitan) yang dihadapi, sebagai alasan untuk membenarkan terbukanya bagian-bagian tertentu dari badan wanita. Sesungguhnya apa yang diperintahkan agama untuk tidak dinampakkan dari bagian badan wanita, sama sekali tidak menghalangi seseorang dari mereka untuk aktif dalam aneka kegiatan positif. Seseorang wanita tidak perlu membuka dada atau pahanya. Sedikit, apalagi banyak. Jika ia hendak melakukan aktivitas apapun yang bermanfaat lagi terhormat atau bahkan berolah raga. Memang, penampakan bagian-bagian tubuh terlarang

itu,

seringkali

dibutuhkan

kalau

maksudnya

adalah

menampakkan keindahan tubuh guna mengundang kekaguman dari berahi pria. Akan tetapi, maksud ini tidak disetujui oleh ajaran Islam, karena Islam sebagaimana juga semua ajaran moral menetapkan bahwa rangsangan birahi tidak boleh ditujukan kecuali kepada pasangan yang sah (Shihab, 2004: 48) Menutup aurat ialah menutup bagian anggota yang dipandang buruk bila terlihat oleh seseorang atau yang membuat malu orang yang melihatnya. Tegasnya yang dinamai aurat ialah bagian anggota yang tak

layak dilihat orang, atau tak layak terlihat dan nampak kepada orang lain Ash-Shiddiey (2001:30) Aurat lelaki yang tidak boleh tidak ditutupi yang terlalu buruk jika dipandang ialah dua kemaluan. Paha, tidak masuk aurat yang wajib benar ditutupiya. Hanya masuk aurat yang tidak disukai bila terbuka.Aurat perempuan ialah seluruh tubuhnya, selain dari muka dan tangan dari ujung tangan hingga pergelangannya dan 2 kaki (menurut pendapat sebagian ulama). Al-Qur’an tidak menentukan secara jelas dan rinci batas-batas aurat (bagian-bagian yang tidak boleh kelihatan karena rawan rangsangan. Seandainya ada ketentuan yang pasti dan batas yang jelas, maka dapat dipastikan pula bahwa kaum muslimin termasuk ulama-ulamanya sejak dahulu hingga kini tidak akan berbeda pendapat. Argumentasi penganut yang menyatakan bahwa seluruh badan wanita aurat pada intinya terletak pada kalimat (yadnina alaihinna min jalabihinna)‫ﺑﻴﺒﻬﻦ‬

‫ﻳﺪ ﻧﲔ ﻋﻠﻴﻬﻦ ﻣﻦ ﺟﻼ‬

kata jalabib adalah bentuk jamak dari kata jilbab. Kata ini diperselisihkan maknanya oleh pakar-pakar bahasa. Menurut penganut pendapat yang menyatakan bahwa seluruh tubuh wanita tanpa kecuali adalah aurat, kata jilbab berarti pakaian yang menutupi baju dan kerudung yang sedang dipakai, sehingga jilbab menjadi bagaikan selimut. Pakar tafsir ibn Jarir (W 923 M) meriwayatkan bahwa Muhammad ibn Sirin bertanya kepada Abidah asl-Salamani tentang.

Pakar tafsir a-Alusi setelah mengemukakan berbagai pendapat, berkesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kata

‫( ﻋﻠﻴﻬﻦ‬alaihinna) adlah

seluruh tubuh mereka. Akan tetapi selanjutnya ada juga yang menyatakan bahwa yang dimaksud diatas kepala mereka/wajah mereka karena yang nampak pada masa jahiliyah adalah wajah mereka. Pakar tafsir al-Biqa’i (1406-1480 M) menyebut beberapa pendapat tentang makna jilbab, antara lain, baju longgar atau kerudung penutup kepala wanita, atau pakaian yang menutupi baju dan kerudung yang dipakainya, atas semua pakaian yang menutupi badan wanita. Semua pendapat ini menurut ulama itu dapat merupakan makna kata tersebut. Kalau yang dimaksud jilbab adalah baju, maka ia adalah pakaian yang menutupi

tangan

dan

kakinya,

kalau

kerudung,

maka

perintah

mengeluarkannya adaah menutup wajah dan lehernya. Kalau maknanya pakain yang menutupi baju, maka perintah mengeluarkannya adalah membuatnya longgar sehingga menutupi semua badan dan pakaian Batas aurat laki-laki 1. Aurat laki-laki di dalam shalat, sekurang-kurangnya menutpi antara pusar dan lutut, tetapi untuk lebih sopan lagi, karena dalam shalat kita sedang menghadap Allah, akan lebih baik bila memakai kain secara sempurna, sebagaimana yang kita saksikan sehari-hari, yakni baju serta kain sarung atau celana yang suci dari najis, ditambah dengan penutup kepala.

2. Di hadapan sesama laki-laki, menutup sekurang-kuranngya diatas pusat dan lutut. 3. Dihadapan wanita yang halal untuk dinikahi (bukan muhrim), sekurang-kurangnya antara pusar dan lutut. Tetapi sebaliknya menutp sebagian besar tubuhnya, atau berpakaian yang sopan. 4. Ketika bersama-sama istri, tiada batas aurat. 5. Ketika ia sendirian, hendaknya menutupi auratnya, yakni kemaluan ??? & Fuad (2001: 225276) Batas aurat wanita 1. Aurat wanita di dalam shalat, adalah seluruh tubuh kecuali muka, dan boleh terbuka telapak tangannya. 2. Jika berhadapan dengan sesama wanita Islam, pakaian yang sopan dan biasa 3. Saat berhadapan dengan wanita kafir: menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan tangannya 4. Dihadaan laki-laki yang bukan muhrim, seorang wanita harus menutupi: a. Seluruh badan kecuali muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangan. Ini menurut pendapat yang masyur dalam mazhab Syafi’i. b. Seluruh tubuh termasuk muka dan tangan, menurut pendapat yang muktamad dalam mazhab Syafi’i

5. Dihadapan laki-laki yang termasuk muhrimnya (selain suami) memakai pakaian biasa, dan diperbolehkan membuka kerudung 6. Khusus dihadapan suami, tiada batas aurat. ??/& Fuad (2001:276)