THE INFLUENCE OF GENETIC FACTORS AND LIFESTYLE ON THE INCIDENCE OF

Download Myopia is a refractive error due to the object shadows focused in front of the retina. Many factors were influence the incidence of myopia,...

0 downloads 377 Views 223KB Size
The Influence of Genetic Factors And Lifestyle on The Incidence of Myopia Among Children Aged 9-12 Years Old Pengaruh Faktor Genetik dan Lifestyle Terhadap Kejadian Myopia Pada Anak Usia 9-12 Tahun Nurul Istiqomah Zulma1, Yunani Setyandriana2 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Abstract Myopia is a refractive error due to the object shadows focused in front of the retina. Many factors were influence the incidence of myopia, two of them are genetic factors and lifestyle. Children with myopic parents have been shown to be more likely to be myopic than those without myopic parents. Lifestyle factors or short distance activity which influence of myopia are reading, watching TV, playing games and playing computer. The purpose of this research is to determine the factors which have influence more on the incidence of myopia, genetic factors or lifestyle. This research was an observational analytic study with case control approach. Respondents in this research were students of Serayu Elementary School of Yogyakarta aged 9-12 years old. The research was conducted from May to August 2014. Respondents were given a questionnaire that contain questions related to the research and obtained 72 respondents, consist of 36 respondents suffer from myopia and 36 respondents not suffer from myopia. The statistical analysis result of genetic factors showed significant value, with p=0.011 (P <0.05) and lifestyle factors showed significant value, with p=0.013 (P <0.05). This results show that genetic factors have more influence on the incidence of myopia than lifestyle factors. Keywords: Myopia, Genetic Factors, Lifestyle Factors 1

Student of Faculty Of Medicine and Health Sciences UMY Lecturer of Faculty Of Medicine and Health Sciences UMY

2

Intisari Myopia adalah kelainan refraksi yang muncul karena bayangan jatuh di depan retina. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya myopia, dua diantaranya adalah faktor genetik dan lifestyle. Myopia yang diakibatkan karena faktor genetik menunjukan anak yang memiliki orang tua yang menderita myopia cenderung mengalami myopia dibandingkan dengan anak dengan orang tua yang tidak myopia. Faktor lifestyle atau aktivitas jarak dekat yang mempengaruhi terjadinya myopia berupa membaca, menonton TV, bermain game dan bermain komputer. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor penyebab yang lebih berpengaruh terhadap kejadian myopia, berupa faktor genetik atau lifestyle. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan case control. Responden pada penelitian ini adalah siswa SDN Serayu Yogyakarta usia 9-12 tahun yang menderita myopia dan tidak menderita myopia. Penelitian dilakukan dari bulan Mei sampai Agustus 2014. Responden diberikan kuesioner yang berisi pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian dan didapatkan 72 responden penelitian, dimana 36 responden menderita myopia dan 36 responden tidak menderita myopia. Hasil analisis statistik pada faktor genetik menunjukkan nilai yang signifikan, yaitu sebesar 0,011 (P<0,05) dan pada faktor lifestyle menunjukkan nilai yang signifikan, yaitu sebesar 0,013 (P<0,05). Hasil ini menunjukkan faktor genetik lebih berpengaruh terhadap kejadian myopia dibandingkan dengan faktor lifestyle. Kata Kunci: Myopia, Faktor Genetik, Faktor Lifestyle 1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY

2

menggunakan

Pendahuluan Myopia merupakan salah satu gangguan kelainan

penglihatan refraksi

berupa

yang memiliki

komputer,

maupun

bermain video games. Terjadinya myopia karena kebiasaan melihat dengan

jarak

dekat

akan

prevalensi tinggi di dunia. Kejadian

menyebabkan meningkatnya tonus

myopia

semakin

siliaris sehingga terjadi peningkatan

meningkat1. Myopia adalah kelainan

akomodasi. Semakin dekat benda

refraksi

dari

yang dilihat, maka semakin kuat

ketidakseimbangan antara panjang

mata berakomodasi. Lensa yang

aksial mata dan kekuatan fokus

menjadi

elemen bias yaitu kornea dan lensa

mengakibatkan

sehingga

jatuh

semakin

yang

lama

muncul

menyebabkan

bayangan

jatuh di depan retina2. Faktor

depan

cembung

bayangan retina

benda sehingga

menimbulkan myopia3. yang

Penelitian ini dilakukan untuk

terjadinya

mengetahui faktor penyebab yang

myopia dapat berupa faktor genetik,

lebih berpengaruh terhadap kejadian

dimana orang tua yang mengalami

myopia, berupa faktor genetik atau

myopia cenderung memiliki anak

lifestyle.

berhubungan

risiko

di

lebih

dengan

myopia. Terjadinya myopia juga Alat dan Cara berhubungan dengan lifestyle atau .Penelitian aktivitas

sehari-hari

ini

merupakan

yang studi analitik observasional atau non-

memerlukan penglihatan jarak dekat eksperimental seperti

membaca,

yang

bersifat

menulis, retrospektif

dengan

pendekatan

metode case control. Alat yang

melakukan random responden usia 9-

digunakan

12 tahun dan dilanjutkan dengan

dalam

penelitian

ini

berupa kuesioner yang di dalamnya

pengumpulan

terdapat

data dilakukan dengan pengisian

informed

consent

dan

optotip snellen.

kuesioner

Sampel yang di uji adalah

data.

oleh

Pengumpulan

responden,

pemeriksaan visus dengan optotip

siswa SDN Serayu Yogyakarta usia

snellen,

9-12 tahun. Siswa yang bersedia

menganalisis

menjadi sampel penelitian, tidak

didapatkan dikelompokkan menjadi

menderita

kelompok

kelainan

mata

selain

menyeleksi data.

genetik,

data Data

dan yang

kelompok

myopia dan siswa yang mengisi

lifestyle, kelompok myopia dan tidak

kuesioner dengan lengkap masuk

myopia.

dalam

didapatkan menggunakan program

kriteria

inklusi

dalam

penelitian ini. Variabel

Analisis

data

yang

komputer dengan uji statistik Chibebas

dalam

Square.

penelitian ini berupa pengaruh faktor Hasil Penelitian genetik atau lifestyle. Sedangkan Hasil pengamatan dilakukan variabel terkontrol berupa kejadian dengan mencatat jumlah sampel pada myopia. masing-masing kelompok. Distribusi Penelitian telah dilakukan di sampel berdasarkan kejadian myopia SDN Serayu Yogyakarta dari bulan dapat dilihat pada Gambar 1. Mei

sampai

Agustus

2014. Pada Gambar 1. tampak dari

Pelaksanaan

diawali

dengan seluruh sampel penelitian didapatkan

36 sampel penelitian (50%) tidak

(29,2%) dan sampel yang berusia 12

menderita myopia, dan 36 sampel

tahun sebanyak 9 sampel (12,5%).

penelitian (50%) menderita myopia.

Pada Tabel 2. dapat diketahui

Karakteristik sampel penelitian dapat

kejadian myopia dilihat dari faktor

dilihat pada tabel 1. Berdasarkan

genetik. Berdasarkan hasil tersebut

jenis kelamin, dari total 72 sampel

didapatkan 66 sampel (91,7%) yang

penelitian

sampel

memiliki faktor genetik, dimana

sampel

54,5% diantaranya menderita myopia

didapatkan

perempuan

sebanyak

49

(68,1%)

dan

sampel

laki-laki

dan

45,5%

diantaranya

sebanyak

23

sampel

(31,9%).

menderita myopia. Sampel yang

Berdasarkan usia sampel, didapatkan

tidak

sampel

sebanyak 6 orang (8,3%), dimana

yang

berusia

9

tahun

memiliki

tidak

yang berusia 10 tahun sebanyak 32

menderita myopia (0%) dan terdapat

sampel (44,4%), sampel yang berusia

6 orang (100%) yang tidak menderita

11

myopia.

sebanyak

21

sampel

Tidak Myopia : 36 sampel (50%) Myopia : 36 sampel (50%) Gambar 1. Distribusi sampel berdasarkan kejadian myopia

sampel

genetik

sebanyak 10 sampel (13,9%), sampel

yahun

ditemukan

faktor

tidak

yang

Tabel 1. Karakteristik sampel penelitian Karakteristik sampel penelitian Jenis Kelamin : perempuan laki-laki Usia : 9 Tahun 10 Tahun 11 Tahun 12 Tahun

Total 49 (68,1%) 23 (31,9%) 10 (13,9%) 32 (44,4%) 21 (29,2%) 9 (12,5%)

Tabel 2. Kejadian myopia dilihat dari faktor genetik Kejadian Myopia Myopia Tidak Myopia N (%) N (%) 36 (54,5%) 30 (45,5%) 0 (0%) 6 (100%)

Ada Faktor Genetik Tidak Ada Faktor Genetik Total

36

Total 66 6

36

72 (100%)

Tabel 3. Distribusi faktor genetik pada kejadian myopia

Ibu

Kejadian myopia Myopia Tidak Myopia 29 (65,9%) 15 (34,1%)

Ayah Nenek Kakek Saudara Kandung

26 (70,3%) 31 (56,4%) 22 (55,0%) 15 (57,7%)

Genetik

11 (29,7%) 24 (43,6%) 18 (45,0%) 11 (42,3%)

Total

Persentase Total dari seluruh sampel

44 37 55 40 26

61,1% 51,4% 76,4% 55,6% 36,1%

Tabel 4. Kejadian myopia dilihat dari faktor lifestyle

Lifestyle Tinggi Lifestyle Rendah Total

Kejadian Myopia Myopia Tidak Myopia N (%) N (%) 28 (44,4%) 35 (55,6%) 8 (88,9%) 1 (11,1%) 36 36

Total 63 9 72 (100%)

Tabel 5. Distribusi faktor lifestyle pada kejadian myopia Lifestyle Membaca Menonton TV Bermain game Bermain komputer

Kejadian myopia Myopia Tidak Myopia 24 (42,9%) 32 (57,1%) 27 (43,5%) 35 (56,5%) 20 (38,5%) 32 (61,5%) 29 (45,3%) 35 (54,7%)

Total 56 62 52 64

Persentase Total dari seluruh sampel 77,8% 86,1% 72,2% 88,9%

Tabel distribusi

3.

faktor

menunjukkan genetik

pada

lifestyle rendah. Berdasarkan dari jumlah

sampel

dengan

lifestyle

kejadian myopia. Berdasarkan tabel

tinggi, terdapat 28 orang (44,4%)

tersebut

pada

menderita myopia dan 35 orang

penderita myopia pewarisan lebih

(55,6%) tidak menderita myopia.

banyak berasal dari Ayah (70,3%).

Dilihat dari jumlah sampel dengan

Sedangkan pada sampel yang tidak

lifestyle rendah, terdapat 8 orang

menderita myopia didapatkan hasil

(88,9%) menderita myopia dan 1

bahwa

orang

tampak

Kakek

bahwa

lebih

banyak

menurunkan myopia (45,0%). Tabel

4.

(11,1%)

tidak

menderita

myopia.

menunjukkan

Tabel

5.

kejadian myopia dilihat dari faktor

distribusi

lifestyle. Pada lifestyle tinggi berarti

kejadian myopia. Berdasarkan hasil

sampel suka melakukan dua atau

tersebut didapatkan pada sampel

lebih aktivitas jarak dekat dalam

yang menderita myopia, aktivitas

sehari. Sedangkan lifestyle rendah

jarak dekat yang paling banyak

berarti

disukai dan dilakukan dalam satu

sampel

hanya

suka

faktor

menunjukkan

hari

ataupun tidak melakukan aktivitas

(45,3%). Sedangkan pada sampel

jarak dekat dalam sehari. Dari 72

yang

sampel

63

aktivitas jarak dekat yang paling

sampel (87,5%) dengan lifestyle

banyak disukai dan dilakukan oleh

terdapat

tinggi dan 9 orang (12,5%) dengan

tidak

bermain

pada

melakukan satu aktivitas jarak dekat

penelitian,

yaitu

lifestyle

menderita

komputer

myopia,

sampel dalam satu hari berupa

kecenderungan mengalami myopia

bermain game (61,5%).

dibandingan dengan sampel yang

Berdasarkan analisis statistik

tidak memiliki faktor genetik. Hasil

dengan uji Chi-Square, kejadian

tersebut sesuai dengan penelitian

myopia dilihat dari faktor genetik

yang dilakukan pada anak sekolah di

menunjukkan nilai yang signifikan,

Singapore

yaitu sebesar 0,011 (P<0,05). Hasil

kedua orang tua yang mengalami

analisis

myopia memiliki risiko lebih besar

statistik

data

mengenai

dimana

anak

dengan

kejadian myopia dilihat dari faktor

menderita

lifestyle menunjukkan nilai yang

dibandingkan dengan anak dengan

signifikan,

orang tua tanpa myopia (2%)4.

yaitu

sebesar

0,013

myopia

(11%)

Menurut Goss, dkk., 2006,

(P<0,05).

prevalensi myopia sebesar 33-60% Diskusi pada anak dengan kedua orang tua Pada

analisis

statistik yang mengalami myopia. Pada anak

kejadian myopia dilihat dari faktor yang memiliki salah satu orang tua genetik dan lifestyle didapatkan hasil myopia prevalensinya sebesar 23bahwa

faktor

genetik

lebih 40%,

berpengaruh

secara

dan

hanya

6-15%

anak

myopia

yang

tidak

signifikan mengalami

dibandingkan dengan faktor lifestyle memiliki

orang

tua

myopia5.

pada kejadian myopia. Penelitian yang dilakukan oleh Wei Berdasarkan hasil penelitian, Pan,

2011,

menunjukkan

anak

didapatkan sampel yang memiliki dengan salah satu orang tua yang faktor

genetik

myopia

memiliki

mengalami myopia memiliki risiko 2

bervariasi9. Penurunan myopia dapat

kali lebih besar menderita myopia

diturunkan pada tingkat satu yaitu

dibandingan dengan anak dengan

langsung dari orang tua kepada anak

orang tua

atau pada keturunan tingkat dua atau

dengan

tanpa

kedua

myopia. Anak

orang

tua

yang

tiga

dan

seterusnya.

Hal

ini

mengalami myopia memiliki risiko 8

menujukkan bahwa dapat ditemukan

kali lebih besar menderita myopia

orang tua dengan myopia namun

dibandingkan dengan anak dengan

anaknya tidak menderita myopia.

orang tua tanpa myopia6.

Dalam hal ini orang tua sebagai

Pada suatu penelitian yang dilakukan

untuk

pembawa

gen

myopia

(carrier).

mengidentifikasi

Myopia yang berhubungan dengan

lokus genetik yang berhubungan

faktor genetik berupa myopia sumbu

dengan kejadian myopia, terutama

atau myopia aksial, dimana anak

myopia ekstrim, telah teridentifikasi

dengan orang tua yang menderita

lokus gen untuk myopia (2q, 4q, 7q,

myopia memiliki sumbu mata yang

12q, 15q,17q, 18p, 22q, dan Xq), dan

lebih panjang dibandingkan dengan

gen

anak dengan orang tua yang tidak

7p15,

7q36,

dan

22q11

dilaporkan ikut mengatur kejadian myopia7-8.

Pada penelitian ini, faktor

Cara penurunan myopia dapat secara

menderita myopia10.

autosomal

lifestyle yang mendukung terjadinya

dominan,

myopia berupa membaca, menonton

autosomal resesif dan sex linked.

TV, bermain game dan bermain

Derajat myopia yang diturunkan juga

komputer.

Hasil

penelitian

menunjukkan pada lifestyle tinggi,

lama aktivitas jarak dekat per hari

sampel yang mengalami myopia

(p=0,000), jenis kelamin (p=0,000),

lebih sedikit dibandingkan dengan

dan pencahayaan (p=0,000) dengan

sampel yang tidak menderita myopia.

kejadian miopia11.

Pada lifestyle rendah didapatkan

Menurut The Sydney Myopia

sampel yang mengalami myopia

Study, anak yang membaca terus

lebih banyak dibandingkan dengan

menerus selama lebih dari 30 menit

sampel

yang

lebih

myopia.

Hal

tidak

mengalami

ini

mungkin

terjadi

myopia

menunjukkan

dibandingkan dengan anak yang

kemungkinan adanya faktor lain

membaca dalam waktu kurang dari

yang

terjadinya

30 menit. Selain itu jarak pandang

myopia karena aktivitas jarak dekat.

bacaan juga berpengaruh terhadap

Faktor

kejadian

mempengaruhi

lain

yang

dapat

kejadian

myopia

membaca dengan jarak kurang dari

berupa jarak melihat, posisi, lama

30 cm memiliki risiko 2,5 kali lebih

aktivitas jarak dekat, jenis kelamin,

besar

dan

mempengaruhi

pencahayaan

myopia.

Anak

menderita

yang

myopia

pada

saat

dibandingkan dengan anak yang

jarak

dekat

membaca dengan jarak pandang

tersebut. Faktor-faktor lain tersebut

bacaan yang lebih jauh6. Intensitas

tidak diteliti dalam penelitian ini

bermain

meskipun dalam sebuah penelitian

perhari memiliki risiko 3 kali lebih

terdapat

besar

melakukan

aktivitas

hubungan

antara

jarak

melihat (p=0,005), posisi (p=0,000),

game selama

mengalami

dibandingkan

dengan

2-6 jam

myopia intensitas

bermain game kurang dari 2 jam

memiliki hubungan dengan aktivitas

perhari. Begitu pula dengan anak

jarak

yang bermain game lebih dari 6 jam

meningkat pada orang yang memiliki

perhari memiliki risiko 3 kali lebih

tingkat pendidikan tinggi. Paparan

besar dibandingkan dengan anak

sistem pendidikan yang lebih intensif

yang

dengan

pada usia dini akan meningkatkan

intensitas 2-6 jam perhari12. Menurut

kejadian myopia. Hal ini dikarenakan

Arianti, (2013), aktivitas jarak dekat

tingkat

dalam

berhubungan dengan waktu yang

bermain

game

waktu

menyebabkan menjadi

tonus

tinggi

menjadi

lama

akan

otot

siliaris

sehingga

cembung

lensa

dekat.

Prevalensi

pendidikan

dihabiskan

untuk

myopia

yang

tinggi

aktivitas

jarak

dekat yaitu membaca dan menulis6.

dan

Pada penelitian ini didapatkan

mengakibatkan bayangan objek jatuh

hasil bahwa faktor genetik lebih

di depan retina dan menimbulkan

berpengaruh

myopia13. Penelitian lain yang telah

myopia dibandingkan dengan faktor

dilakukan pada siswa sekolah dasar

lifestyle. Kejadian myopia dapat

di Yogyakarta yang menunjukkan

semakin kuat insidensinya apabila

bahwa aktivitas melihat dengan jarak

faktor lifestyle mendukung terjadinya

dekat dengan intensitas yang tinggi

myopia dan diikuti dengan adanya

mempengaruhi pertambahan myopia

faktor genetik.

terhadap

kejadian

pada anak14. Kesimpulan Tingkat

pendidikan

dalam 1. Didapatkan

72

anak

yang

sebuah penelitian disebutkan juga menjadi

sampel

penelitian,

yang terdiri dari 36 sampel

tidak

(50%) menderita myopia dan

peneliti, sehingga perlu penelitian

36

lebih lanjut yang memperhatikan

sampel

(50%)

tidak

menderita myopia.

dan

2. Dilihat dari faktor genetik pada penderita myopia, pewarisan

dipantau

menilai

langsung

secara

oleh

langsung

mengenai hal tersebut. 2. Penelitian

ini

juga

memiliki

lebih banyak berasal dari Ayah

keterbatasan berupa tidak dinilai

(70,3%) dan pada sampel yang

secara langsung faktor genetik

tidak

yang

menderita

myopia

terjadi

dalam

keluarga

didapatkan hasil bahwa Kakek

sampel, hanya berupa pertanyaan

lebih

dalam

banyak

menurunkan

myopia (45%). 3. Faktor

genetik

kuesioner,

memungkinkan lebih

berpengaruh secara signifikan

sehingga

adanya

recall

bias. 3. Perlu pelitian lebih lanjut yang

dengan nilai P sebesar 0,011

mempertimbangkan

(P<0,05) dibandingkan dengan

lifestyle berupa aktivitas jarak

faktor lifestyle dengan nilai P

jauh yang dilakukan oleh subjek

sebesar 0,013 (P<0,05) pada

penelitian dan asupan nutrisi yang

kejadian myopia pada anak

dikonsumsi oleh subjek penelitian

usia 9-12 tahun.

yang

mungkin

faktor

berpengaruh

terhadap kejadian myopia. Saran 4. Perlu penelitian lebih lanjut yang 1. Keterbatasan dalam penelitian ini menganalisis tentang pengaruh berupa aktivitas sampel penelitian

lamanya beraktivitas jarak dekat

6) Mengatur

pada kejadian myopia.

mata

5. Hal-hal yang harus diperhatikan bagi

masyarakat

mengurangi

pandang

terhadap

komputer,

untuk

angka

jarak

layar

TV,

maupun

perangkat elektronik lain.

kejadian

7) Membaca

dengan

myopia khususnya pada anak

tidur

yang memiliki faktor genetik

bukanlah kebiasaan yang

dengan

baik.

memperhatikan

faktor

lifestyle berupa :

atau

posisi

tengkurap

b. Melatih melihat jauh dan dekat

a. Mencegah terjadinya kebiasaan

secara bergantian.

buruk, dengan cara : 1) Anak

dibiasakan

duduk

dengan posisi tegak. 2) Memegang alat tulis dengan

Daftar Pustaka 1.

2.

benar. 3) Melakukan istirahat setiap

3.

30 menit setelah melakukan

4.

kegiatan jarak dekat.

5.

4) Batasi jam membaca. 5) Mengatur jarak baca yang

6.

tepat yaitu 30 cm dan 7.

menggunakan yang cukup.

penerangan

8.

Wojciechowski, R. (2011). Nature And Nurture: The Complex Genetics Of Myopia And Refractive Error. National Istitutes of Health, 79(4): 301–320. Guggenheim, J. A, Northstone, K., McMabon, G., Ness, A.R., Deere, K., Mattocks, C., et al. (2012). Time Outdoors and Physical Activity as Predictors of Incident Myopia in Childhood: A Prospective Cohort Study. Investigative Ophthalmology & Visual Science (IOVS), 53:2856–2865. Arianti, M. P. (2013). Hubungan Antara Riwayat Myopia Di Keluarga dan Lama Aktivitas Jarak Dekat Dengan Myopia Pada Mahasiswa Pspd Untan Angkatan 2010-2012. Wilson, L. C. J. (2011). Risk Factors For EarlyOnset Myopia In Singapore Chinese Preschool Children. Goss, D. A., Grosvenor, T. P., Keller, J. T., Tootle, W. M., Norton, T. T., Zadnik, K. (2006). Practice Guideline Care of The Patient with Myopia American Optometric Association. Optometric Clinical. Diakses dari: http://www.aoa.org/document s/CPG-15.pdf. Pan, C. W., Ramamurthy, D., Saw, S. W. (2011). Worldwide Prevalence And Risk Factors For Myopia. Ophthalmic & Physiological Optics, 32: 3–16. Alexander, A., Bialasiewicz.,2011. Genetics of myopia. Oman J Ophthalmol: 4(2): 49. Klein, A.P., Duggal, P., Lee, K. E., Cheng, C. Y., Klein, R., Bailey-Wilson, J. E., et al. (2011). Linkage Analysis of Quantitative Refraction and Refractive Errors in the Beaver Dam Eye Study. Investigative Ophthalmology & Visual Science (IOVS), 52(8): 5220-5225.

9. 10. 11.

12.

13.

14.

Widodo, A., Prilia. (2007). Miopia Patologi. Jurnal Oftalmologi Indonesia. 5(1): 19-26. Hong, Y. C. (2011). The Role of Near Adaptation in Myopia Development. Arbaatun, F. (2012). Beberapa Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Miopia Pada Anak Usia 8-12 Tahun (Studi Kasus Di Sd 16 Muhammadiyah Bendo, Kec. Kalibawabg, Kab. Kulon Progo). Undergraduate thesis, Diponegoro University. Diakses dari: http://eprints.undip.ac.id/35185/. Retnandy, R. (2012). Pengaruh Intensitas Bermain Game Online Terhadap Kejadian Miopi Pada Mata Anak. Arianti, M. P. (2013). Hubungan Antara Riwayat Myopia Di Keluarga dan Lama Aktivitas Jarak Dekat Dengan Myopia Pada Mahasiswa Pspd Untan Angkatan 2010-2012. Triharyo, I., Gunawan, W., Suhardjo. (2008). Pertambahan Miopia Pada Anak Sekolah Dasar Daerah Perkotaan dan Pedesaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Oftalmologi Indonesia 6(2): 104-112.